Foto Intim Harus Dihapus di Akhir Hubungan

womenshappiness.com

Pernah berfoto intim dengan pasangan Anda? Pernah mengirimkan foto anda yang termasuk sexually explicit kepada pasangan? Bagaimana status foto tersebut jika pada akhirnya hubungan Anda kandas di tengah jalan?

Mengirimkan foto yang  sexually explicit saat ini menjadi semacam kesenangan. Terlebih dengan adanya aplikasi SnapChat yang menjajikan foto bisa terhapus setelah beberapa detik. Namun sebelum terlalu jauh, ada baiknya Anda tidak melakukan hal tersebut agar tidak khawatir, sewaktu-waktu foto anda yang sexually explicit tersebut tidak digunakan untuk melawan anda.

Mengenai foto sexually explicit ini ada peristiwa menarik di Jerman. Pengadilan tinggi daerah Koblenz memerintahkan foto-foto intim harus dihapus pada akhir hubungan jika salah satu mitra pasangan meminta untuk itu. Artinya, jika anda pernah berfoto intim untuk pasangan, foto tersebut harus dihapus oleh mantan pasangan anda ketika hubungan anda bubar jika anda meminta foto tersebut untuk dihapus.

Putusan pengadilan tinggi daerah Koblenz  ini bergaung di seluruh dunia digital dan menimbulkan debat terkait dengan keseimbangan antara kebebasan berekspresi dan privasi. Para ahli hukum menyambut baik keputusan ini dan mengatakan akan memberdayakan para korban revenge porn (korban yang menjadi sasaran karena pernah berfoto intim untuk pasangan)  untuk lebih proaktif untuk meminta penghapusan foto intim mereka.

Putusan ini bermula dari kasus seorang pria dari wilayah Lahn – Dill di wilayah Hesse, Jerman. Ia telah mengambil beberapa foto erotis dari pasangan wanitanya yang  pada saat itu telah menyetujui untuk diambil foto erotisnya. Setelah hubungan mereka  berakhir, wanita tersebut menuntut penghapusan foto-foto erotis tersebut dan mencari bantuan hukum karena mantan pacarnya menolak untuk menghapus foto-foto erotis tersebut.

Pengadilan Koblenz berpihak pada si wanita dan memerintahkan mantan pasangannya untuk menghapus semua foto erotis meskipun mantan pasangan (si pria) tidak ada niat sama sekali untuk mereproduksi foto-foto erotis wanita tersebut atau menempatkannya secara online. Menurut pengadilan Koblenz, hak-hak pribadi (seperti foto-foto erotis tersebut) dinilai lebih tinggi dibandingkan hak fotografer. Ini artinya meskipun tidak ada keinginan untuk mereproduksi gambar erotis pasangan, namun karena gambar tersebut bersifat pribadi, maka jika diminta untuk dihapus, harus dihapus.

Pengadilan juga memberikan detail yang cukup bagus bahwa wanita tersebut hanya bisa meminta penghapusan foto-foto berkategori erotis (maaf, misalnya foto telanjang), sedangkan foto-foto dengan berpakaian lengkap tidak bisa dihapus.

Kasus ini tentu sangat menarik untuk dicermati, terkait dengan majunya media sosial dan kemungkinan munculnya kasus ketika hubungan antara sepasang kekasih kandas di tengah jalan. Bisa saja salah satu pasangan dendam karena diputus sehingga melakukan balas dendam dengan mereproduksi foto erotis mantannya  atau menempatkannya di internet. Setidaknya hal ini sebuah kemajuan, meskipun hanya di Jerman untuk melindungi privasi dari kemungkinan diumbar ke publik.

Hal yang lebih utama sebenarnya adalah menghindarkan diri anda dari melakukan pembuatan foto-foto erotis diri anda untuk pasangan agar kelak tidak perlu meminta pertolongan pengadilan untuk melakukan penghapusan foto-foto erotis tersebut. Apalagi di Indonesia, inisiatif untuk melindungi privasi tidaklah sebagus di negara lain, dalam contoh ini Jerman.

Sumber: The Guardian

Sumber Gambar: womenshappiness.com