Multitasking antara Kenyataan dan Mitos

charlesstone.comEra penggunaan perangkat digital secara masif memunculkan sebuah perilaku, yaitu perilaku multitasking. Multitasking sesuai dengan namanya adalah menjalakan berbagai tugas atau kegiatan secara simultan dalam satu saat tertentu. Contoh konkret dari multitasking adalah ketika anda menggunakan berbagai aplikasi sekaligus di sebuah perangkat digital seperti komputer, tablet atau smartphone.

Mungkin banyak di antara kita yang percaya mitos multitasking dapat menyelesaikan beberapa tugas sekaligus. Umpamakanlah saat ini anda mengerjakan pekerjaan kantor, tetapi sambil mengerjakan pekerjaan tersebut anda masih menyempatkan diri melakukan chatting, melakukan tweet, atau update status di Facebook atau malah mengupload foto dan video. Sepertinya dengan multitasking, semua tugas tersebut dapat diselesaikan, bukan?

Sebelum menjawab, ada perlunya anda memeriksa lebih jauh, apakah benar multitasking dapat menyelesaikan beberapa pekerjaan sekaligus. Beberapa penelitian justru menunjukkan hasil yang berlawanan dari perkiraan banyak orang.

Otak manusia memiliki beberapa saluran untuk memproses berbagai jenis informasi. Itulah alasan mengapa manusia mampu berjalan sambil berbicara atau mendengarkan musik sambil membaca koran pagi dan seterusnya, di mana salah satu atau kedua dari tugas-tugas yang dilakukan tersebut memiliki intensitas rendah. Akan tetapi, masalahnya muncul ketika otak dipaksa untuk melakukan dua atau lebih tugas intensitas tinggi sekaligus. Misalnya ketika anda dioperasi tentu Anda tidak ingin dokter bedah mengobrol dengan istrinya karena operasi bedah merupakan kegiatan berintensitas tinggi.

Selain itu, beberapa fakta yang dihasilkan dari penelitian patut untuk diperhatikan.

  1. Penurunan IQ. Sebuah studi yang dilakukan oleh University of London Institute of Psychiatry menemukan bahwa terdapat penurunan 10 poin IQ  bilamana seseorang melakukan multitasking.
  2. Memperlambat Anda. Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Experimental Psychology menemukan bahwa produktivitas turun sebanyak 40% ketika melakukan multitasking.
  3. Membuat stress. Studi oleh National Institute of Neurological Disorder di Maryland menemukan bahwa multitaskers (mereka yang melakukan multitasking) memiliki tingkat stres lebih tinggi daripada seluruh penduduk yang diukur dengan gejala fisiologis.
  4. Adanya dampak permanen. Multitasking dalam jangka panjang dapat merusak fungsi otak dan menyebabkan kesulitan konsentrasi dan belajar dalam jangka panjang.

Kesimpulan yang dapat diambil adalah mereka yang heavy multitasker memiliki performa yang lebih buruk daripada mereka yang sedikit melakukan multitasking. Artinya, semakin banyak anda melakukan multitasking, anda semakin terganggu dan semakin tidak fokus sehingga hasil atau performa anda semakin jelek.

Nah, beberapa hasil penelitian tersebut cukup memberikan bukti bahwa tidak semua tugas dapat di-multitasking-kan. Artinya, anda tak perlu selalu menggunakan multitasking. Selain itu, patut diperhatikan bahwa ternyata multitasking memiliki dampak negatif yang cukup banyak.

Sumber: yourstory.com

Sumber Gambar:  charlesstone.com