Jejaring Sosial Pemicu Nomophobia (Bagian 2)

boldsky.com

Fenomena nomophobia memang tidak bisa dilepaskan dari ledakan tren jejaring sosial yang kian menjamur dalam beberapa tahun terakhir. Kecanduan terhadap media sosial yang memicu sindrom FoMO (fear of missing out) inilah yang akhirnya mendorong pengidap nomophobia terus bertambah dalam beberapa tahun terakhir.

Indonesia sendiri merupakan salah satu pengguna jejaring sosial yang paling aktif di dunia. Menurut data lembaga PeerReach, Indonesia menempati peringkat ke 3 pengguna Twitter terbesar di dunia setelah Amerika Serikat dan Jepang pada tahun 2014. PeerReach mencatat porsi pengguna Twitter di Indonesia tahun ini mencapai 6,5% dari seluruh pengguna Twitter di dunia dengan 2,4% dari total tweet di dunia disumbangkan oleh Jakarta.

Tak hanya Twitter, Indonesia juga tercatat sebagai negara asal pengguna Path terbanyak di dunia. Dalam wawancara dengan Bloomberg Businessweek Indonesia pada November 2013, pendiri sekaligus CEO Path Dave Morin mengatakan dari 20 juta pengguna aktif Path di dunia, sebanyak 4 juta pengguna atau 20% diantaranya merupakan anggota teraktif dari Indonesia.

Pengamat media sosial Abang Edwin Syarif Agustin menilai salah satu alasan banyaknya pengguna jejaring sosial adalah distribusi informasi yang lebih cepat dan lebih mudah. Jejaring sosial mengubah cara berkomunikasi antara media massa dengan penggunanya menjadi lebih efektif. Artinya, orang tidak perlu lagi harus membaca koran atau situs berita untuk mengetahui peristiwa yang sedang terjadi.

Yang perlu diwaspadai dari jejaring sosial salah satunya adalah kontrol informasi, karena saking cepatnya informasi yang masuk terkadang pengguna langsung menyebarkan informasi itu tanpa mengecek dulu kebenarannya,” paparnya. “Padahal informasi yang kita dapat di jejaring sosial sudah tidak dapat lagi dijadikan acuan.

Terus meningkatnya pengguna jejaring sosial belakangan ini tak pelak lagi mendorong sindrom nomophobia kian banyak bermunculan. Dalam studi yang dilakukan oleh SecurEnvoy di Inggris pada tahun 2012, disebutkan bahwa pengidap nomophobia meningkat secara signifikan sejak 2008. Dalam studi yang dilakukan terhadap 1.000 responden, sekitar dua pertiga di antaranya mengaku merasa takut jika kehilangan atau hidup tanpa telepon genggam.

Sumber Gambarboldsky.com

PenulisGadis Kurnia Kusuma