Jejaring Sosial Pemicu Nomophobia (Bagian 3, Habis)

blogs.constantcontact.com

Dalam riset SecurEnvoy pada tahun 2012 disebutkan bahwa pengidap nomophobia terbanyak berada dalam kategori responden dengan rentang usia 18-24 tahun (77%) dan disusul oleh responden berusia 25-34 tahun (68%).

Menurut CTO SecurEnvoy Andy Kemshall, dalam riset sebelumnya yang dilakukan empat tahun lalu (2008), hanya ditemukan 55% responden yang mengaku takut hidup tanpa telepon genggam. Jumlah ini meningkat menjadi 66% dalam studi terbaru pada tahun 2012. Dalam studi lainnya juga ditemukan bahwa secara rata-rata, setiap orang mengecek telepon genggamnya 34 kali dalam sehari.

Ketergantungan terhadap telepon genggam tentunya memiliki dampak negatif dalam kehidupan sosial seseorang. Ardita mengatakan salah satu temannya sampai memiliki empat gadget dalam upayanya untuk terus terkoneksi dengan jejaring sosial. Sedemikian nyamannya berada dalam komunitas virtual, sang teman tersebut kerap kesulitan dan merasa tidak percaya diri berinteraksi di dunia nyata.

Psikolog Anna Surti Ariani berpendapat pecandu jejaring sosial kerap memiliki penghayatan emosional yang kurang dan akibatnya tidak mendapatkan kebahagiaan dalam hidup yang sebenarnya. Pecandu jejaring sosial yang juga mengidap nomophobia, lanjutnya juga sering kali menjadi tidak fokus dalam percakapan dan interaksi sosial yang sedang berlangsung di dunia nyata.

Menurut, Anna Surti Ariani  salah satu indikasi seseorang mengidap nomophobia adalah mereka sering berhalusinasi akan adanya notifikasi jejaring sosial di telepon genggam. Akibatnya, mereka sering sekali menghabiskan waktu mengecek layar ponsel.

Individu yang memiliki nomophobia dan kecanduan jejaring sosial akan sulit fokus dalam percakapan langsung karena konsentrasinya terbagi antara mendengarkan lawan bicara dan mengecek akun pribadinya. Lama-kelamaan dia akan terasing dari lingkungnnya sendiri.

Menurut Anna, langkah awal untuk bisa bebas dari sindrom nomophobia dan kecanduan terhadap jejaring sosial harus dimulai dari kesadaran sang individu sendiri. Salah satu cara yang paling mudah adalah dengan mematikan notifikasi jejaring sosial di telepon genggam. Dengan demikian, godaan untuk mengecek layar handphone setiap saat pun menjadi berkurang.

Di era digital seperti sekarang memang sulit membayangkan untuk hidup tanpa telepon genggam. Namun sulit bukan berarti tidak mungkin. Toh, berpuluh-puluh tahun yang lalu manusia masih bisa berkomunikasi tanpa gadget canggih dan Twitter. Bahkan mungkin kehidupan sosial mereka lebih sehat karena tidak terhalang oleh layar handphone setiap saat.

Jadi, siap mencoba sehari saja hidup tanpa ponsel?

Sumber Gambar: blogs.constantcontact.com

PenulisGadis Kurnia Kusuma