Facebook Melanggar Prinsip Penelitian Akademik

rsz_original

Tentu belum lepas dari ingatan tentang penelitian Facebook terhadap hampir 700 ribu pengguna secara diam-diam beberapa waktu yang lalu untuk melihat perubahan suasana hati/emosi. Kasus ini tampaknya masih terus mendapat perhatian yang luas, terutama di Inggris dan Amerika Serikat.

Beberapa waktu yang lalu, jurnal ilmiah yang menerbitkan studi yang dilakukan oleh Facebook bersama dua universitas di AS tersebut menyesalkan bagaimana eksperimen sosial tersebut dilakukan.

Studi tersebut mendorong regulator privasi di Inggris dan Perancis untuk membuka penyelidikan apakah Facebook mungkin telah melanggar hukum dengan melakukan penelitian secara diam-diam atau tanpa sepengetahuan penggunanya.

Dalam catatan penyesalan yang dipublikasikan oleh Proceedings of the National Academy of Sciences, mereka menyimpulkan bahwa keputusan untuk memanipulasi konten yang muncul pada halaman Facebook dari hampir 700.000 orang pengguna tanpa persetujuan mereka mungkin telah melanggar beberapa prinsip dari penelitian akademik.

Menurut editor in chief jurnal ilmiah tersebut, hal ini sebuah keprihatinan bahwa pengumpulan data oleh Facebook mungkin menggunakan praktek-praktek yang tidak sepenuhnya konsisten dengan prinsip-prinsip informed consent yang memungkinkan peserta untuk memilih tidak mengikuti pengumpulan data tersebut.

Keprihatinan jurnal ilmiah tersebut muncul sehari setelah Chief Operating Officer Facebook, Sheryl Sandberg meminta maaf dan mengakui bahwa jaringan sosial terbesar di dunia tersebut harus mengkomunikasikan secara lebih baik tentang studi/penelitian yang dilakukan terhadap pengguna.

Dalam dari kasus ini, Facebook secara sewenang-wenang mengikutkan hampir 700 penggunanya ke dalam sebuah penelitian untuk mengetahui emosi secara diam-diam. Ini artinya pengguna Facebook tidak diberitahu sama sekali sehingga tidak ada kemungkinan untuk tidak ikut dan juga tidak tahu bahwa apa yang muncul di news feed mereka merupakan rekayasa untuk memengaruhi emosi mereka.

Sumber: huffingtonpost.com

Sumber Gambar: gawkerassets.com