25 Ribu Karyawan Homeland Security Jadi Korban Cyber Attack

homelandsecurity1

Catatan internal menunjukkan lebih dari 25.000 orang kayawan departemen Homeland Security Amerika Serikat di-hack selama serangan hacker terhadap komputer baru-baru ini. Serangan hacker tersebut terjadi terhadap sebuah kontraktor yang menangani security clearence di departemen Homeland Security.

Catatan internal tersebut dikemukakan oleh seorang staf resmi Homeland Security yang tidak mau disebutkan namanya. Menurutnya, bahkan kemungkinan jumlah korban yang terkena serangan hacker tersebut bisa lebih banyak lagi.

Homeland Security telah memperingatkan karyawannya yang terkena serangan yang dilancarkan terhadap USIS (US Investigations Services) tersebut dan diminta untuk memperhatikan rekening keuangan mereka.

Pada awal bulan Agustus yang lalu, USIS mengakui bahwa ada serangan yang dideteksi oleh tim cybersecurity internal yang kemudian muncul sebagai intrusion yang berdasakan tanda-tandanya disponsori oleh negara lain. Namun identitas negara lain yang mensponsori serangan tersebut tidak diungkapkan.

USIS dalam beberapa bulan terakhir dikritik atas kinerja mereka dalam hal pemeriksaan latar belakang analis sistem National Security Agency Edward Snowden dan Aaron Alexis, karyawan militer kontrak yang menembak 12 orang hingga tewas di Washington pada September 2013 yang lalu.

Kontraktor swasta melakukan pemeriksaan latar belakang lebih dari dua-per tiga dari 4,9 juta pekerja pemerintah dengan izin keamanan dan USIS menangani hampir setengah dari jumlah tersebut.

Sampai saat ini tidak jelas kapan terjadinya serangan tersebut, namun departemen Homeland Security memberitahu karyawan pada tanggal 6 Agustus. Saat itu Homeland Security memerintahkan untuk melakukan stop work orders untuk mencegah mengalirnya informasi ke USIS sampai dengan departemen tersebut yakin USIS bisa memastikan keamanan datanya.

Bila ditelusuri lebih lanjut, serangan terhadap pemerintah AS dan perusahaan AS beberapa waktu terakhir cukup sering dilakukan hacker. Beberapa waktu yang lalu, AS telah menghukum beberapa jenderal asal China yang diduga melakukan hacking terhadap perusahaan Amerika Serikat. China sejauh ini merupakan negara yang paling sering disebut sebagai sponsor serangan hacker tersebut.

Sumber: The Guardian

Sumber Gambar: dailyslave.com