Facebook Mengancam Kesejahteraan Penggunanya

facebook-front_179_2232542b

Sebagai media sosial terbesar, Facebook tidak henti-hentinya menjadi objek penelitian berbagai pihak. Dua universitas yang berbeda, yaitu Sapienza University of Rome dan the Institut National de la Statistique et des Études Économiques du Grand-Duché du Luxembourg mengungkapkan fakta baru bahwa Facebook dan media sosial lainnya bisa membuat curiga dan tidak bahagia.

Penelitian baru dari kedua universitas tersebut menemukan bahwa paparan konten homophobic, rasis atau misoginis (anti perempuan) di media sosial termasuk Facebook dapat mengancam kesejahteraan subjektif dengan cara mengikis kepercayaan pengguna (sehingga menjadi orang yang curiga) di dalam masyarakat.

Kedua univeristas tersebut mengeksplorasi data dari survei terhadap 50.000 orang di Italia dari 24.000 rumah tangga yang mengunjungi internet dan media sosial dalam kaitannya dengan tingkat kebahagiaan dan kepercayaan diri.

Dari data survei tersebut, peneliti menemukan bahwa jaringan sosial/media sosial meningkatkan risiko terkena perilaku ofensif dan hate speech yang dapat memiliki efek merugikan pada kesehatan mental masyarakat.

Peneliti menyimpulkan bahwa dalam diskusi online dengan orang yang tidak dikenal, individu lebih mudah untuk berperilaku agresif dan tidak sopan. Jaringan online juga merupakan lahan subur bagi penyebaran sesuatu yang berbahaya, menyinggung, atau kontroversial yang sering berada di ambang antara kebebasan berbicara dan hate speech.

Konten yang penuh kebencian ini dapat mengurangi kepercayaan pembaca pada orang lain dan oleh sebab itu memiliki efek yang merugikan pada kesejahteraan mereka sendiri.  Penelitian ini menambah bobot penelitian sebelumnya yang menemukan bahwa media sosial dapat menurunkan kebahagiaan publik dan kepuasan umum terhadap kehidupan mereka.

Menurut para peneliti, makin sering menggunakan Facebook dalam waktu tertentu, semakin buruk apa yang mereka rasakan pada waktu berikutnya. Mereka yang menggunakan Facebook dalam waktu dua minggu merasakan tingkat kepuasan hidup mereka terus menurun dari waktu ke waktu. Padahal di permukaan, sebenarnya Facebook  menyediakan sumber tak ternilai bagi pemenuhan kebutuhan dasar manusia untuk koneksi sosial.

Sumber: axiv.org via The Telegraph