Kebebasan di Internet Memburuk pada Tahun 2013

rsz_freedom-on-the-net-2013

Freedom House baru-baru ini merilis laporan tentang kebebasan di internet untuk tahun 2013 yang lalu. Menurut Freedom House, kegiatan memata-matai yang luas, undang-undang baru yang dibuat untuk mengendalikan konten di web, dan meningkatnya laju pertumbuhan penangkapan terhadap pengguna media sosial membuat kebebasan berinternet cenderung menurun di tahun 2013 yang lalu. Namun demikian, Freedom House juga mencatat bahwa aktivis menjadi lebih efektif dalam meningkatkan kesadaran terhadap ancaman yang muncul dan dalam beberapa kasus telah membantu mencegah tindakan represif baru.

Menurut Sanja Kelly, direktur proyek untuk kebebasan internet di Freedom House, pemblokiran (akses) dan penyaringan (konten) tetap menjadi metode yang disukai untuk melakukan sensor di banyak negara. Pemerintah di berbagai negara semakin melihat siapa yang mengatakan apa ketika online dan mencari cara untuk menghukum mereka. Ia menambahkan bahwa di beberapa negara, pengguna dapat ditangkap hanya karena posting di Facebook atau memberikan LIKE terhadap komentar seorang teman yang kritis terhadap pemerintah.

Pengawasan atau kegiatan memata-matai pengguna internet adalah tren yang paling signifikan tahun 2013 (sampai sekarang juga masih menjadi isu yang penting). Laporan Freedom On The Net 2013 menemukan bahwa 35 dari 60 negara dinilai telah memperluas kekuatan teknis dan hukum dalam hal kegiatan pengawasan mereka selama tahun lalu. Pengawasan semacam ini terutama bermasalah di negara-negara di mana ia kemungkinan besar akan digunakan untuk penindasan karena perbedaan pandangan politik dan aktivisme sipil.

Di beberapa negara otoriter, aktivis melaporkan bahwa e-mail dan komunikasi lainnya diperlihatkan kepada mereka selama interogasi atau digunakan sebagai bukti dalam persidangan yang dipolitisasi dengan risiko antara lain masuk penjara, penyiksaan, dan bahkan kematian.

Banyak pemerintah, karena takut terhadap kekuatan media sosialyang bisa mendorong terjadinya protes secara nasional bergegas untuk mengesahkan undang-undang yang membatasi ekspresi online. Sejak Mei 2012 yang lalu, 24 dari 60 negara dinilai mengadopsi undang-undang atau arahan yang mengancam kebebasan internet dengan beberapa hukuman penjara mengesankan hingga 14 tahun untuk beberapa jenis pembicaraan online.

Secara keseluruhan, 34 dari 60 negara yang dinilai dalam laporan Freedom on The Internet mengalami penurunan kebebasan berinternet. Khususnya, Vietnam dan Ethiopia melanjutkan siklus memburuknya represi, Venezuela meningkatkan sensor selama pemilihan presiden.

Islandia dan Estonia menduduki puncak daftar negara dengan tingkat terbesar kebebasan internet. Sementara skor keseluruhan untuk Amerika Serikat mengalami penurunan sebesar 5 poin pada skala 100 poin, sebagian besar disebabkan oleh kegiatan memata-matai yang diungkapkan baru-baru ini. Cina, Kuba, dan Iran menjadi negara yang paling represif dalam hal kebebasan internet untuk tahun kedua secara berturut-turut.

Anda dapat mengakses laporan Freedom On The Internet di link ini.

Sumber: Freedom House

Sumber Gambar: indexmundi.com