Media Sosial Mendorong Self Censorship?

delete-640x316

Kemajuan media sosial saat ini menjadikannya sebagai platform berbagi yang paling disukai oleh pengguna internet. Mulai dari soal-soal pribadi sampai dengan masalah publik, sering menjadi topik yang hangat dibicarakan di media sosial. Bila kita lihat beberapa bulan terakhir sebelum dan sesudah pemilihan presiden, media sosial sangat heboh di Indonesia. Media sosial terutama Facebook dan Twitter menjadi sarana penting untuk menyuarakan pendapat dan pandangan politik.

Kita melihat bahwa di Indonesia, pandangan politik seseorang sering dibagi di media sosial. Mereka dengan berbagai motivasi menyatakan dukungan yang jelas terhadap kandidat tertentu dalam pilpres yang baru saja berlangsung. Namun demikian, mungkin tidak semua pengguna media sosial melakukan hal tersebut.

Di Amerika Serikat contohnya, para pengguna media sosial cenderung untuk tidak membagi pandangan mereka terkait masalah-masalah publik. Hal ini ditemukan oleh survei yang dilakukan oleh PEW Research beberapa waktu yang lalu.

PEW Research menemukan bahwa orang kurang bersedia untuk membahas kisah Snowden-NSA di media sosial daripada mereka secara pribadi. 86% orang Amerika bersedia untuk melakukan percakapan dengan orang lain tentang program pengawasan NSA (dan bocoran Snowden), tetapi hanya 42% dari pengguna Facebook dan Twitter yang bersedia untuk mem-posting hal tersebut  di Facebook dan Twitter. Hal ini menandakan adanya kecenderungan pengguna media sosial melakukan self censorship, yaitu dengan sadar menyensor konten yang akan mereka bicarakan di media sosial.

Media sosial tidak menyediakan platform diskusi alternatif bagi mereka yang tidak mau melakukan diskusi tentang kisah Snowden-NSA tersebut. 14% dari mereka yang tidak mau melakukan diskusi tersebut juga enggan mendiskusikan hal tersebut dengan orang lain (orang per orang), hanya sekitar 0,3% yang bersedia mem-posting di media sosial.

Menurut PEW Research, orang-orang lebih bersedia untuk berbagi pandangan jika mereka pikir audien  setuju dengan pendapata/pandangan mereka. Misalnya, di tempat kerja, orang-orang yang merasa rekan kerjanya setuju dengan pendapat mereka tentang  Snowden-NSA, tiga kali lebih mungkin untuk mengatakan bahwa mereka akan bergabung dengan percakapan di tempat kerja tentang Snowden-NSA.

Tentu saja hasil survei ini sebuah hal yang sangat menarik jika kita bandingkan dengan kondisi riil yang terjadi belakangan ini di Indonesia. Di Amerika tampaknya ada kecenderungan pengguna media sosial kurang mau berbagi pandangan terhadap masalah publik yang tengah hangat-hangatnya seperti kisah Snowden-NSA. Di Indonesia kita melihat cukup banyak pengguna Facebook dan Twitter yang mau membagi pandangannya terhadap masalah publik. Mungkin hal ini perlu didalami dengan melakukan survei yang sama di Indonesia.

Sumber: PEW Research

Sumber Gambar: Ars Technica