Mengapa Anda Harus Menjadi Low Tech Parents

steve

Kemajuan gadget/perangkat dan internet (media sosial) kini telah merasuki dunia anak-anak. Anak-anak yang lahir di zaman internet sangat maju seperti sekarang ini (digital native) belum masuk sekolah taman kanak-kanak sudah sangat pintar mengendalikan perangkat teknologi seperti smartphone dan tablet. Terkadang mereka lebih pintar daripada orang tuanya dalam menggunakan alat-alat tersebut. Hal ini menjadi kekhawatiran sendiri karena teknologi tersebut bukan tanpa risiko.

Berkaca kepada dampak buruk teknologi ada baiknya orang tua berupaya sedini mungkin untuk menjadi low tech parents atau orang tua yang membatasi penggunaan perangkat atau gadget bagi anak. Hal ini bukan sama sekali membatasi anak untuk mengenal gadget, tetapi lebih kepada berupaya tidak melakukan hal-hal yang membuat anak manja dengan gadget.

Banyak orang tua yang mengalah kepada anak dan tampaknya sangat bangga ketika anaknya yang baru TK atau SD membawa iPad, iPhone, smartphone Android, BlackBerry dan lainnya. Mereka cenderung memuaskan keinginan anak atau menenangkan anak dengan memberikan gadget agar anak tidak lagi merepotkan. Padahal tindakan tersebut tidaklah baik jika dipandang dari segi risiko teknologi yang dialami oleh anak.

Salah satu contoh baik yang patut ditiru adalah bagaimana orang-orang yang sukses membuat teknologi atau gadget yang dipakai banyak orang justru membatasi anaknya dalam menggunakan perangkat. Contohlah Steve Jobs yang menciptakan iPhone, iPad, dan komputer Mac.

Dalam salah satu wawancaranya di tahun 2010, Steve Jobs mengakui bahwa dirinya merupakan low tech parents atau orang tua yang membatasi anak menggunakan gadget. Anaknya bahkan tidak menggunakan iPad sebelum iPad tersebut dijual di toko-toko. Rumahnya pun tidak penuh dihiasi oleh perangkat yang ia buat seperti iPod, layar sentuh raksasa, dan iPad. Jobs mengatakan bahwa anaknya tidak dekat dan cenderung jauh dari teknologi.

Tidak hanya Steve Jobs yang membatasi anaknya terlibat dengan teknologi yang ia ciptakan sendiri, banyak tokoh di bidang teknologi juga melakukan hal yang sama, cenderung memberikan jarak yang ketat dan tegas dan tidak mau anak mereka hanyut oleh gadget atau teknologi siang dan malam. Hal ini berbanding terbalik dengan orang tua masa kini yang membesarkan anak-anak mereka dengan gadget atau teknologi.

Chris Anderson contohnya, penulis buku sukses dan mantan editor di situs teknologi Wired mengatakan bahwa ia dan istrinya dituduh fasis dan terlalu takut/khawatir dengan teknologi oleh anak-anak mereka. Anak-anaknya mengatakan bahwa tidak ada teman mereka yang memiliki aturan yang sama seperti yang diterapkan oleh Chris Anderson dan istrinya.

Bahaya yang mengintai melalui perangkat dan teknologi tersebut memang tidak akan terlihat oleh anak. Bahaya tersebut mengacu pada pemaparan konten berbahaya seperti pornografi, intimidasi dari anak-anak lain, dan mungkin lebih buruk dari semua itu adalah menjadi kecanduan gadget, sama seperti orangtua mereka.

Alex Constantinople, CEO  OutCast Agency mengatakan bahwa putra bungsunya berusia 5 tahun  tidak diizinkan untuk menggunakan gadget dalam week days dan anak-anaknya yang berusia 10 dan 13 tahun hanya diizinkan 30 menit sehari menggunakan gadget di hari sekolah.

Evan Williams, pendiri Blogger, Twitter dan Medium dan istrinya, Sara Williams mengatakan bahwa sebagai pengganti iPad, dua anak laki-laki mereka memiliki ratusan buku (cetak)  yang dapat diambil dan dibaca kapan saja.

Anak di bawah usia 10 tahun tampaknya paling rentan terhadap kecanduan sehingga orang tua harus menarik garis tegas tidak mengizinkan gadget selama week days. Pada akhir pekan, ada batas-batas mulai dari 30 menit sampai dua jam menggunakan iPad dan smartphone. Pada usia 10 sampai 14 tahun diperbolehkan untuk menggunakan komputer di hari sekolah, tetapi hanya untuk pekerjaan yang terkait dengan sekolah.

Dengan berlaku sebagai low tech parents ini, akan sangat menguntungkan kepada anak sehingga ia tidak terpapar konten yang tidak sesuai dengan usianya. Anak-anak pun akan lebih dekat dengan orang tuanya karena waktu lebih banyak dihabiskan bersama orang tua dibandingkan dengan gadget.

Sumber: The New York Times

Sumber Gambar: CNN