Mengapa Anda Tidak Perlu Memuji Anak Cerdas

rsz_kids-learning-games

Orang tua sering sekali boros dengan memberikan pujian kepada anak mereka ketika berhasil atau sukses dalam melakukan sesuatu, bahkan ketika mengerjakan sesuatu yang sudah biasa mereka kerjakan. Di satu sisi pujian ini akan meningkatkan motivasi anak, namun mungkin orang tua tidak memikirkan dampak berikutnya dari pujian tersebut.

Para peneliti telah mengetahui untuk beberapa lamanya bahwa otak seperti layaknya otot, bahwa semakin Anda menggunakannya, otak tersebut akan semakin tumbuh. Para peneliti telah menemukan bahwa bentuk hubungan saraf yang makin mendalam ketika kita membuat kesalahan bila melakukan tugas-tugas sulit daripada mengalami kesuksesan ketika melakukan tugas yang mudah berulang kali.

Hal ini berarti bahwa kecerdasan kita tidaklah tetap (selalu berkembang) dan cara terbaik bagi kita untuk bisa menumbuhkan kecerdasan adalah dengan melakukan tugas-tugas di mana kita mungkin gagal dalam melakukannya.

Terkait dengan pujian terhadap anak tersebut di atas, adalah tidak tepat untuk memberikan pujian ketika anak sukses mengerjakan tugas-tugas yang mudah dan sudah biasa mereka kerjakan, tetapi mungkin perlu memuji mereka ketika sukses melakukan suatu tugas di mana kemungkinan gagalnya cukup besar. Sayangnya tidak cukup banyak orang menyadari hal ini.

Dr. Carol Dweck dari Stanford University telah mempelajari pola pikir masyarakat terhadap pembelajaran selama beberapa dekade. Dia menemukan bahwa kebanyakan orang terbagi ke dalam dua pola pikir, yaitu tetap atau pertumbuhan. Pola pikir tetap percaya bahwa orang pintar atau tidak ditetapkan oleh gen (orang pintar karena dari gen-nya sudah pintar). Orang dengan pola pikir pertumbuhan percaya bahwa kemampuan dan kecerdasan dapat tumbuh melalui usaha, perjuangan dan kegagalan.

Dweck menemukan bahwa mereka dengan pola pikir tetap cenderung memfokuskan usaha mereka pada tugas-tugas di mana mereka memiliki kemungkinan keberhasilan yang tinggi dan menghindari tugas-tugas di mana mereka mungkin harus berjuang sehingga membatasi belajar mereka. Sebaliknya, orang-orang dengan pola pikir berkembang, menjawab tantangan, dan memahami bahwa kegigihan dan usaha bisa mengubah hasil belajar mereka.

Kabar baiknya adalah bahwa pola pikir dapat diajarkan. Dweck dan lain-lain telah mengembangkan teknik yang mereka sebut intervensi mindset berkembang yang menunjukkan bahwa bahkan perubahan kecil dalam komunikasi atau sebuah komentar yang terlihat berbahaya dapat memiliki implikasi yang cukup tahan lama untuk pola pikir seseorang. Misalnya, ketika memuji proses anak (Ayah sangat suka bagaimana kamu berjuang dengan masalah itu) dibandingkan memuji suatu sifat bawaan atau bakat ( Kamu memang pintar!) adalah salah satu cara untuk memperkuat pola pikir berkembang seorang anak.

Ini artinya orang tua harus hati-hati ketika memberikan komentar yang memuji keberhasilan anak. Pujilah dengan cara  memuji kegigihan dan ketabahan anak dan menggarisbawahi bahwa otak itu seperti otot. Hal ini akan mengubah pola pikir mereka menjadi pola pikir berkembang dan mereka percaya kecerdasan seseorang bukan bakat bawaan dari lahir, tetapi sesuatu yang dapat diperjuangkan. Asal mau berusaha keras dalam belajar, anak akan cerdas. Makin sering mereka ditempa oleh perjuangan dan kegagalan, mereka akan semakin cerdas.

Sumber: Diolah dari Khan Academy

Sumber Gambar: parenting3.com