Didik Anak Menghargai Hak Cipta di Sekolah

teaser-copyright

Dalam zaman internet seperti sekarang ini, siswa/pelajar atau bahkan mahasiswa sangat mudah menemukan berbagai hal, seperti musik, film, artikel dan banyak lainnya. Ketersediaan konten-konten tersebut yang melimpah, terutama yang ilegal membuat mereka tidak berpikir lagi apakah konten tersebut sah untuk dipakai atau dipertukarkan. Selain itu, sekolah/universitas tidak mau tahu, apakah siswa/mahasiswa mengonsumsi konten legal atau ilegal. Padahal keabsahan konten tertentu sangat terkait dengan hak cipta, sebuah hak yang perlu diperkenalkan kepada siswa semenjak dini.

Di Inggris kekhawatiran tentang konten legal/ilegal dan Hak Cipta ini menjadi perhatian kantor perdana menteri. Mike Weatherley yang ditempatkan untuk menangani pelanggaran hak cipta oleh David Cameron menyerukan agar pendidikan tentang hak cipta dimulai di kelas/sekolah. Pendidikan tentang hak cipta tersebut harus dimulai dalam tahun-tahun awal kehidupan seorang anak hingga terus sampai ke universitas. Hal tersebut harus didukung oleh program pendidikan hak cipta dari BBC dan upaya baru oleh pemerintah untuk membuat informasi tentang kekayaan intelektual yang bisa diakses secara online oleh khalayak luas.

Kurikulum sekolah perlu mempersiapkan siswa dari tahun-tahun awal sampai akhir sekolah menengah dan pendidikan tinggi untuk ekonomi abad 21 di mana untuk hal tersebut interaksi dengan hak cipta adalah kejadian sehari-hari bagi banyak orang muda, namun secara luas diabaikan dalam sistem pendidikan. Pemerintah dan industri harus memiliki peran yang jelas dalam mendukung para profesional pendidikan dengan mengembangkan dan memberikan sumber daya online, toolkit dan rencana pelajaran dengan dan untuk guru sehingga hak cipta menemukan jalan ke dalam kurikulum melalui bidang studi yang berbeda.

Pendidikan merupakan salah satu  dari tiga solusi yang disarankan untuk menangani pelanggaran hak cipta. Dengan pendidikan sejak dini bisa memenangkan hati dan pikiran pengguna tentang pentingnya melindungi hak cipta. Namun demikian terdapat kekhawatiran bahwa kurikulum pendidikan dirancang dengan tujuan mengurangi pelanggaran hak cipta bukan untuk mendidik totalitas kekayaan intelektual. Hal ini bisa menampilkan anggapan yang tidak seimbang dari hak cipta.

Contohnya, Asosiasi Industri Rekaman Amerika (RIAA) mensponsori kurikulum pendidikan hak cipta sendiri pada tahun 2009 yang mengarah ke pertanyaan yang meminta siswa untuk menjumlah nilai total semua lagu hasil download secara ilegal dan memfokuskan bahwa adalah ilegal bagi siapa saja untuk menyalin konten yang dilindungi, sementara gagal untuk menjelaskan cara bagaimana konten berhak cipta dapat digunakan ulang di bawah penggunaan yang fair.

Dengan demikian, kurikulum hak cipta harus menjelaskan secara total tentang hak cipta itu sendiri, tidak hanya pada apakah suatu konten legal atau ilegal untuk dikonsumsi. Harus dijelaskan juga cara-cara fair penggunaan konten berhak cipta dengan tetap berada di koridor hak cipta. Ini artinya, jangan terlalu fokus kepada legal atau ilegal, cara-cara fair penggunaa konten berhak cipta juga harus dajarkan dan dikembangkan.

Sumber: The Guardian

Sumber Gambar: rnw.nl