Jurnalis Seharusnya Risau dengan Media Sosial

social-media-sign

 

Apa yang sangat maju sekarang ini? Tiada lain dari media sosial.

Kemajuan teknologi menganggu monopoli media dalam jurnalisme. Munculnya smartphone dan jaringan sosial mengurangi hambatan masuk bagi para jurnalis digital.

Jurnalis sering diidentifikasi sebagai sekumpulan penulis profesional. Namun sekarang, setiap orang yang memiliki  ponsel kamera dapat menangkap momen dan berbagi konten dengan mudah. Setiap blogger dapat mempublikasikan cerita dan mensosialisasikannya melalui ribuan newsfeed Facebook miliknya.

Tampaknya telah terjadi pergeseran kekuasaan. Established media  telah melepaskan kontrol mereka atas konten apa yang bisa dikonsumsi oleh publik. Orang awam yang pernah dianggap konsumen, kini menciptakan konten asli pada tingkat yang luar biasa.

Oleh karenanya, tidak mengherankan, konten dengan cepat menjadi jenuh di internet. Akibatnya, semakin sulit bagi publik untuk menemukan konteks dan keaslian di antara labirin media digital.

Hari ini, sebagian besar konten yang dikonsumsi publik bahkan tidak menyerupai hasil jurnalisme. Kadang-kadang adalah Instagram, kadang-kadang adalah tweet, kadang-kadang sebuah artikel yang memberitahu hal-hal yang tidak penting, namun seharusnya penting, misalnya 22 hal yang tidak diketahui  tentang keju.

Apapun bentuk konten yang dikonsumsi hari ini, isi yang melekat di dalamnya berfungsi hampir sama dengan jurnalisme. Konten tersebut menarik perhatian publik meskipun hanya untuk sesaat.

Kenyataannya pada hari ini publik lebih memilih untuk mengonsumsi konten yang mungkin tidak dihasilkan dari disiplin jurnalisme yang ketat. Kemajuan media sosial telah membuat jurnalisme seperti tertinggal di belakang. Konten-konten hasil jurnalisme yang brilian cenderung tidak mengena di hati publik, mereka lebih condong mengonsumsi sesuatu yang pada dasarnya tidak menyerupai hasil jurnalisme. Tengoklah Instagram, Twitter, bahkan BuzzFeed yang sering membuat banyak orang untuk membaca fakta-fakta yang kadang absurd.

Tentu saja BuzzFeed tidak membuat media yang sudah lama berdiri seperti New York Times usang. Namun, BuzzFeed menawarkan pembaca hal lain meskipun kurang dapat diandalkan sebagai tempat untuk mengubah jawaban. Menurut Stijn Debrouwere:

Jurnalisme tidak sedang terganggu oleh jurnalisme yang lebih baik, tetapi oleh hal-hal yang hampir tidak dikenali sebagai jurnalisme sama sekali.

Hal-hal lain yang tidak dikenali sebagai jurnalisme itu  mungkin salah satunya berbentuk kemajuan di media sosial.

Tidaklah mengherankan bahwa hari ini publik lebih tenggelam di lautan news feed media sosial mereka. Publik lebih condong memeriksa Twitter, Facebook dan banyak media sosial lainnya untuk mencari apa yang terjadi meskipun kemudian mereka mungkin tidak menemukannya. Publik condong untuk mengonsumsi konten seperti yang diandalkan oleh BuzzFeed karena mungkin ditampilkan lebih menarik, meskipun mungkin bukan hasil sebuah jurnalisme.

Sumber: Dolah dari Huffington Post

Sumber Gambar: memeburn.com