1 dari 5 Anak Bertemu Orang Asing secara Offline karena Internet

mw-630-istock-kids-computer-macbook

 

Anak-anak sering terpedaya dengan bujuk rayu orang asing yang mereka temui di internet. Fakta ini terungkap dari sebuah survei di Inggris terhadap 1.214 orang anak sekolah dasar. Karena bujuk rayu tersebut, hampir 18% atau satu dari lima anak usia 9 hingga 11 tahun bertemu dengan seseorang yang pertama kali mereka temui secara online dengan lebih dari setengah mengaku telah pergi ke pertemuan pertama mereka secara offline.

Ini artinya, hampir satu dari lima anak usia 9 sampai 11 tahun telah bertemu dengan orang asing internet dalam kehidupan nyata. Survei nasional terhadap 1.214 murid sekolah dasar di Inggris ini dilakukan oleh (ISC)2 Foundation.

Mayoritas anak-anak yang melakukan pertemuan di dunia nyata dengan orang asing yang mereka temui di internet melalui game online (47 persen) atau media sosial dan online chat (26 persen). Seperlima mengatakan mereka terkejut dengan usia orang yang mereka temui atau tampang mereka ketika pertama kali bertemu dengan mereka.

Anak yang melakukan pertemuan secara offline tersebut membawa seseorang bersama dengan mereka untuk pertemuan pertama kali, 57 persen membawa teman lain atau beberapa teman yang usianya juga di bawah 18 tahun. Hanya 28 persen membawa orang tua atau orang dewasa anggota keluarga dan 14 persen membawa orang dewasa lainnya.

Survei tersebut juga mengungkapkan bahwa 16 persen anak-anak telah mem-posting, mengirim atau menerima foto secara online atau dengan teks di mana foto tersebut tidak ingin diketahui oleh keluarga. Sebanyak 72 persen dari mereka menerima gambar yang menjengkelkan secara online dan tidak memberitahu siapa pun tentang hal tersebut.

Satu dari lima anak mengakui bahwa mereka berpura-pura menjadi lebih dewasa, mulai dari 18 tahun di internet (13 persen di antaranya berpura-pura menjadi 26 tahun atau lebih tua).

Anak-anak tersebut melaporkan bahwa mereka menjadi target dari orang dewasa yang berbohong tentang usia dengan 11 persen mengatakan mereka ditipu untuk menerima permintaan pertemanan dari orang asing di internet yang mengaku berusia  di bawah 18 tahun, namun kemudian ternyata orang dewasa.

Fakta-fakta tersebut bisa saja membuat orang tua terkejut. Mereka mungkin tidak menyangkan materi apa saja yang diterima dan dibagi anak di dunia online. Fakta bahwa anak melakukan pertemuan offline dengan orang asing yang mereka temui di internet merupakan satu pertanda bahwa keselamatan anak mungkin saja terancam.

Untuk itu, sangat penting bagi orang tua melibatkan anak-anak dalam dialog yang jujur tentang perilaku online mereka. Orang tua juga harus lebih sadar terhadap bahaya online agar bisa membuat mereka mengambil peran lebih aktif dalam mengawasi penggunaan internet anak-anak.

Hampir seperempat dari anak-anak yang disurvei mengatakan bahwa orang tua tidak pernah memeriksa apa yang mereka lakukan di jejaring sosial dan akses internet di rumah disediakan di kamar tidur mereka.

Sumber: The Telegraph

Sumber Gambar: Yahoo