Korban Cyberbullying Meningkat Dua Kali Lipat

cyberbullying1

 

Penelitian terbaru menunjukkan jumlah anak-anak yang di-bully di internet telah naik dua kali lipat dalam satu tahun terakhir.

Dalam sebuah jajak pendapat terhadap anak-anak usia 11 sampai dengan 17 tahun ditemukan 35% anak melaporkan bahwa mereka telah mengalami cyberbullying. Angka ini naik dua kali lipat dibandingkan dengan tahun lalu yang sebesar 16%. Empat dari 10 anak mengatakan mereka telah menyaksikan orang lain menganggu secara online, naik hampir dua kali lipat dibandingkan tahun lalu yang sebesar 22%.

Studi tersebut juga menunjukkan bahwa ribuan remaja, termasuk banyak yang masih berusia 15 tahun atau kurang menggunakan layanan pesan Snapchat dan aplikasi kencan Tinder setiap hari. Bahkan beberapa orang tua membantu anak-anak mereka dalam membuat akun. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa orang tua secara tidak sadar menempatkan anak mereka pada risiko.

Penelitian tersebut dilakukan oleh perusahaan keamanan Internet McAfee yang melakukan survei terhadap 2.000 anak dan 2.000 orang dewasa di Inggris. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa ada sikap yang santai di antara banyak orang tua mengenai risiko yang ditimbulkan secara online terhadap anak.

Kurang dari sepertiga orang tua (27%) mengatakan mereka khawatir tentang anak mereka menjadi korban cyberbullying tahun ini. Angka ini berarti penurunan hampir setengah dari angka tahun lalu yang sebesar 45%. Fakta lainnya adalah dua dari tiga (67%) dari anak-anak kini diizinkan untuk online tanpa pengawasan, angka ini naik tajam dari tahun lalu yang sebesar dari 53%.

Sekitar satu dari enam (17%) dari anak-anak yang disurvei melaporkan menggunakan Tinder setiap hari, dengan hampir setengah dari mereka (46%) berusia 15 tahun ke bawah. Layanan Tinder lebih populer di kalangan anak perempuan daripada anak laki-laki dengan satu dari lima responden anak perempuan menggunakannya dibandingkan dengan  hanya 15% dari anak laki-laki.

Jumlah anak yang menjadi korban cyberbullying yang terus meningkat ini membutuhkan  perhatian dari banyak pihak. Selain itu, penggunaan aplikasi seperti Snapchat dan Tinder, semestinya tidak dilakukan oleh anak-anak karena kemungkinan mereka menyalahgunakannya yang berujung kepada di-bully oleh teman-teman mereka.

Orang tua harus lebih mengawasi apa yang dilakukan oleh anak secara online, bukan malah membantu membuatkan akun untuk layanan yang seharusnya belum boleh mereka gunakan.

Sumber: The Guardian

Sumber Gambar: cbsbaltimore.com