Media Sosial, Kekhawatiran Terbesar Orang Tua

shutterstock_coppa

 

Penelitian sebuah organisasi nirlaba Family Online Safety Institute (FOSI) baru-baru ini di Amerika Serikat menunjukkan bahwa media sosial merupakan satu-satunya aktivitas online dan teknologi yang orang tua percaya bahayanya melebihi manfaat atau bahaya dan manfaatnya sama-sama seimbang.

Sebanyak 43% dari orang tua yang disurvei mengatakan aspek negatif dari anak mereka yang memiliki akun media sosial melebihi manfaat, sedangkan 31% berpikir risiko dan manfaat media sosial hampir sama dan hanya 26% berpikir keuntungan yang diberikan media sosial sebanding dengan potensi risiko.

Sebesar 53% orang tua yang mengatakan anaknya memiliki akun jejaring sosial, lebih dari tiga perempat (78%) telah login ke akun anak untuk memeriksa postingan mereka.

Jen Hanley, direktur hukum dan kebijakan FOSI mengatakan orang tua khawatir bahwa anak-anak mereka mungkin overshare  online dengan memposting informasi pribadi yang tidak bisa dihapus. Penelitian ini adalah pertama kalinya bagi FOSI yang secara khusus memeriksa sikap orangtua terhadap bagaimana anak-anak menggunakan teknologi dan aktivitas online.

Laporan FOSI  menyatakan bahwa meskipun banyak orang tua memantau aktivitas online anak-anak mereka dan yakin akan kemampuan mereka untuk melakukannya, tingkat kepercayaa diri dalam kemampuan mereka untuk melakukan hal tersebut terus menurun dengan semakin bertambahnya usia anak. Artinya makin bertambah usia anak, pengawasan orang tua terhadap aktivitas online mereka cenderung menurun.

Menurut laporan FOSI lebih dari setengah (53%) dari orang tua mengatakan mereka telah menggunakan parental control untuk mencegah anak mereka dari mengakses  beberapa jenis konten online dan jumlah yang hampir sama banyaknya (47%) orang tua telah menghentikan in app purchase.

Kekhawatiran orang tua terhadap media sosial tersebut sangat beralasan. Banyak konten negatif seperti pornografi ternyata beredar bebas di media sosial padahal mungkin kalau berupa situs, konten tersebut telah diblokir. Selain itu, aktivitas anak di media sosial cenderung dilakukan secara serampangan karena tidak adanya petunjuk atau saran penggunaan yang baik sehingga sering sekali anak terlibat dalam kasus bullying.

Risiko anak bermedia sosial juga terkait dengan privasi dan keamanan. Banyak kasus di mana anak-anak diculik oleh orang yang mereka kenal di media sosial. Hal ini tentu menjadi kekhawatiran orang tua.

Sumber: The Guardian

Sumber Gambar: famigo.com