Perusahaan Teknologi AS Membantu Terorisme

twitter_2094423b

 

Tampaknya perusahaan teknologi Amerika Serikat kini menjadi tempat komando dan kotrol para teroris. Hal itu diungkapkan oleh direktur badan mata-mata Inggris (GCHQ) yang baru, Robert Hannigan.

Robert Hannigan menuduh raksasa teknologi seperti Facebook dan Twitter telah menjadi jaringan pilihan untuk komando dan kontrol bagi teroris dan penjahat, tetapi mereka menyangkal berada dalam masalah tersebut.

Robert Hannigan mengatakan bahwa teroris Isil di Suriah dan Irak akrab dengan web dan menggunakannya untuk mengintimidasi orang lain dan menginspirasi calon jihadis dari seluruh dunia untuk bergabung dengan mereka.

Ia mendesak (Facebook dan Twitter) untuk bekerja lebih erat dengan layanan keamanan dengan alasan bahwa sudah waktunya bagi mereka untuk menghadapi beberapa kebenaran yang tidak nyaman dan bahwa privasi bukanlah hak mutlak. Lebih jauh Robert Hannigan mengatakan bahwa kecuali perusahaan teknologi AS mau bekerja sama, undang-undang baru diperlukan untuk memastikan bahwa badan-badan intelijen dapat melacak dan mengejar teroris.

Komentar Robert Hannigan ini merupakan kritik paling vokal terhadap raksasa teknologi AS. Ia mengerti mengapa perusahaan teknologi AS memiliki hubungan yang tidak nyaman dengan pemerintah, yaitu karena mereka menginginkan menjadi saluran data netral dan berada di luar politik. Namun layanan perusahaan teknologi AS tersebut tidak hanya menjadi tempat bagi materi kekerasan atau eksploitasi anak, tetapi juga menjadi rute untuk memfasilitasi kejahatan dan terorisme.

Robert Hannigan menyoroti letupan materi ekstremis jihad online di situs seperti Twitter, Facebook dan Whatsapp dan mengatakan bahwa teroris sekarang dapat menyembunyikan identitas mereka dengan menggunakan alat enkripsi yang dulunya hanya tersedia untuk negara.

Apa yang dikemukakan Robert Hannigan ini tidaklah salah. Bila kita lihat di Facebook dan Twitter misalnya sangat banyak organisasi teroris yang memanfaatkan layanan tersebut untuk melakukan aksi terorisme. Sayangnya, mungkin akan sulit bagi Facebook atau Twitter untuk menolak kehadiran mereka karena kalaupun dihapus akan muncul lagi beberapa waktu kemudian. Mungkin perusahaan teknologi AS seperti Facebook atau Twitter bisa lebih bekerja sama dengan layanan keamanan, namun hal tersebut akan bertentangan dengan nilai-nilai privasi pengguna.

Sumber: The Telegraph

Sumber Gambar: The Telegraph