Bekerja Sama Lintas Batas untuk Keselamatan Digital Anak

child-abuse

Semua orang setuju bahwa menghentikan munculnya pelecehan dan eksploitasi anak secara online merupakan prioritas mendesak. Pertanyaan besarnya adalah apakah ada cara yang lebih inovatif untuk melakukan hal tersebut?

Terlalu sering di masa lalu, dialog antara pemerintah dan perusahaan teknologi terkemuka melompat dari satu krisis ke krisis yang lain. Dalam setiap interaksi, setiap pihak memiliki keinginan yang berbeda satu sama lain. Pemerintah kaku dengan aturan, sementara perusahaan teknologi serasa tidak bertanggung jawab, sedangkan organisasi nonpemerintah terlalu ekstrim dan cenderung menyalahkan pemerintah dan perusahaan teknologi.

Kebenaran yang sederhana adalah bahwa sesuatu yang sangat mengerikan kini tengah terjadi dan terus mengancam anak-anak. Di Inggris, Child Exploitation and Online Protection Centre menerima rata-rata 1.600 laporan sebulan yang berkaitan dengan eksploitasi seksual anak. Di Amerika Serikat, US National Center for Missing & Exploited Children mengungkapkan bahwa mereka meninjau 17,3 juta foto dan video yang diduga terkait dengan pornografi anak.

Terlebih lagi, statistik lain mengungkapkan bawah 19% dari pelaku memiliki gambar anak-anak yang usianya kurang dari tiga tahun pada perangkat mereka, 39% dari pelaku memiliki gambar anak-anak di bawah usia enam tahun, dan 83% dari mereka memiliki gambar anak-anak usia di bawah usia 12 tahun.

Pertanyaan kuncinya adalah bagaimana memanfaatkan kekuatan teknologi untuk melawan kejahatan mengerikan tersebut?

Pada tahun 2013 yang lalu Perdana Menteri Inggris David Cameron menghimpun koalisi internet service provider dan perusahaan platform internet dan memberikan mereka tantangan untuk menuangkan pikiran cerdas dan meminta mereka untuk memberikan cara bagaimana menghentikan pelecehan dan eksploitasi anak secara online. November tahun 2013 Perdana Menteri Inggris dan Presiden Amerika Serikat sepakat untuk membentuk gugus tugas bersama Inggris-AS untuk melawan kejahatan pelecehan dan eksploitasi anak secara online tersebut.

Hasilnya adalah telah terlihat adanya kemajuan pada tahun 2014. Pada bulan Mei 2014, perusahaan teknologi bersama-sama terlibat dalam sebuah forum ahli teknis yang mewakili 48 perusahaan teknologi terkemuka di dunia yang bekerja sama dengan akademisi dan ahli untuk mengembangkan pendekatan baru untuk melindungi anak-anak.

Beberapa hari yang lalu  WeProtect meluncurkan beberapa solusi yang dikembangkan dari forum tersebut. Yang pertama adalah alat baru yang dikembangkan oleh IBM dan Getty Images dan perusahaan lain untuk aparat penegak hukum dengan menggunakan pengenalan wajah dan web crawling technology untuk mempercepat analisis gambar pelecehan seks anak untuk mengidentifikasi korban dan memberikan mereka bantuan dan dukungan.

Kedua, Dell dan Visa Eropa bekerja mengembangkan sebuah sistem yang membantu anak muda/remaja menilai risiko dan membuat keputusan berdasarkan informasi yang lebih banyak mengenai orang-orang yang mereka ajak bicara online. Sistem baru tersebut memberikan skor atau nilai atas interaksi online dan memberikan peringkat risiko.

Masih sangat banyak usaha yang dilakukan oleh pemerintah dan perusahaan teknologi dalam upaya memberikan keamanan yang lebih baik bagi anak yang online. Pertanyaannya di manakah posisi Indonesia?

Sejauh ini belum ada usaha yang bisa dikatakan cukup serius yang dilakukan oleh, baik pemerintah maupun perusahaan teknologi ataupun organisasi nonpemerintah dalam upaya menjaga keselamatan anak online terutama terkait dengan kejahatan pelehcehan dan eksploitasi anak online. Mengingat sedemikian mendesaknya masalah ini, sudah seharusnya pemerintah, internet service provider dan organisasi nonpemerintah di Indonesia duduk satu meja membahas cara-cara untuk menghentikan pelecehan dan eksploitas anak online.

Sumber: Dirangkum dari The Telegraph

Sumber Gambar: krmsradio.com