Menemukan Perilaku Teroris Online Ternyata Lebih Sulit

NSA

Mengapa banyak orang marah ketika ada saran bahwa update status pengguna Facebook harus di-scan dulu untuk mengetahui adanya potensi ancaman teroris, namun banyak  orang menerima ketika akan naik pesawat di-scan untuk menemukan ancaman teroris? Apa perbedaan antara orang yang di-scan tersebut dengan informasi di Facebook?

Banyak situs internet berusaha untuk menemukan perilaku teroris yang tersembunyi dalam ratusan juta pesan yang dihasilkan setiap jam dengan akurasi yang sama akuratnya dengan detektor logam bandara yang bisa melihat pistol di saku penumpang.

Namun demikian pada dasarnya menemukan komunikasi teroris jauh lebih sulit daripada menemukan konten yang melanggar hak cipta atau gambar pelecehan anak. Sebabnya adalah pertama, tidak banyak teroris di dunia sehingga hanya ada sedikit data yang dapat digunakan untuk peringatan otomatis. Ini artinya gambar pelecehan anak dan konten yang melanggar hak cipta ternyata lebih banyak dibandingkan teroris yang beraksi secara online.

Kedua, yang penting adalah perilaku teroris adaptif. Sebuah video yang melanggar hak cipta dari film tidak dapat mengubah karakteristiknya untuk menghindari pendeteksian sehingga dengan mudah diketahui. Gambar pelecehan anak juga tidak bisa berubah menjadi sesuatu yang lain. Namun, teroris tahu mereka sedang diawasi sehingga mengambil langkah-langkah untuk menghindari pendeteksian.

Bahkan, laporan Intelligence and Security Committee of Parliament (ISC) Inggris memberikan penjelasan menarik tentang betapa sulitnya bagi ahli investigasi manusia untuk menafsirkan perilaku potensial teroris. Contoh kasus adalah para pelaku pembunuhan mengerikan terhadap Fusilier Lee Rigby yang berada di bawah pengawasan berkala oleh pemerintah Inggris, tetapi pihak berwenang masih belum mampu menentukan ancaman. Demikian pula, meskipun peringatan otomastis teroris terdengar menarik, sulit untuk merancang sistem yang dapat membedakan niat teroris sehingga setiap pendekatan tersebut akan berhadapan dengan risiko kesalahan identifikasi.

Dengan kondisi eperti itu, pengawasan secara online akan terus menjadi masalah beracun sampai kita menata ulang hubungan antara pemerintah (baik penegak hukum dan badan-badan intelijen) dan komunitas online (baik penyedia dan pengguna). Penataan ulang ini memerlukan kesepakatan substantif terhadap norma-norma hak asasi manusia untuk pengawasan global, dan beberapa mekanisme akuntabilitas nyata bahwa pengguna dapat percaya.

Sumber: The Guardian

Sumber Foto: The Guardian