Tweet Kemarahan Meningkatkan Risiko Penyakit Jantung

twitter_2094423b

Melampiaskan kemarahan di Twitter mungkin membuat Anda terpuaskan, namun ingatlah bahwa hal tersebut juga bisa meningkatkan risiko kematian akibat penyakit jantung. Hal ini diungkapkan oleh sebuah studi yang dilakukan oleh University of Pennsylvania.

Menurut para peneliti di University of Pennsylvania, ada korelasi yang kuat antara penggunaan bahasa emosional yang negatif masyarakat di Twitter dan kematian akibat penyakit jantung.

Studi sebelumnya telah mengidentifikasi banyak faktor yang berkontribusi terhadap risiko penyakit jantung, termasuk berpenghasilan rendah, merokok dan stres. Namun, para peneliti menunjukkan bahwa Twitter dapat mengumpulkan informasi lebih banyak tentang risiko penyakit jantung daripada faktor tradisional lain jika dikombinasikan.

Para peneliti menganalisis seperangkat tweet publik yang dibuat antara tahun 2009 dan 2010 dan menemukan bahwa kelompok masyarakat di mana kata-kata seperti hate (benci) atau kata-kata kasar lain sering ditemukan memiliki tingkat kematian akibat penyakit jantung lebih tinggi. Sebaliknya, kata-kata positif menunjukkan korelasi yang berlawanan, menunjukkan optimisme dan pengalaman positif seperti pada kata wonderful (indah) atau friend (teman)  serta melindungi terhadap penyakit jantung.

Emosi negatif dapat memicu respon perilaku dan sosial, misalnya menjadi lebih mungkin untuk minum (mabuk), pola makan buruk dan diisolasi dari orang lain yang secara tidak langsung dapat menyebabkan penyakit jantung.

Hasil penelitian ini bisa menjadi semacam peringatan bagi mereka yang suka mengomel atau marah-marah di Twitter tentang berbagai hal. Bukan hal yang aneh, Twitter kini banyak diisi oleh mereka yang suka marah dan menebar kebencian. Di Indonesia terutama beberapa waktu terakhir kita melihat hal ini dan jumlahnya tidak berkurang, malah terus meningkat.

Sumber: Psychological Science via The Telegraph