Pedofil Menjual Live Streaming Demi Bitcoin

FacebookArticle1

Kejahatan di internet makin hari makin menggila. Baru-baru ini Europol melaporkan bahwa penjahat hi tech semakin banyak menjual live streaming pemerkosaan anak di situs chat dan aplikasi seperti Skype dengan imbalan mata uang Bitcoin.

Pihak Europol mengatakan penjahat yang mengeksploitasi anak-anak secara seksual di internet kini makin mencari keuntungan secara finansial dan menyesuaikan dengan perkembangan teknologi. Hal tersebut dikemukakan dalam laporan khusus yang dirilis oleh Europol yang berjudul eksploitasi seksual komersial anak online.

Laporan ini disusun oleh pusat EC3 cybercrime Europol bersama-sama dengan Eurojust, organisasi nonpemerintah dan kartu kredit serta raksasa online seperti Google dan Microsoft. Laporan tersebut menggambarkan gambaran mengganggu dari meningkatnya kekerasan terhadap anak secara online.

Penjualan video pelecehan anak berupa live streaming tersebut dilakukan di situs chatting atau aplikasi video chatting  sebab cara ini jauh lebih sulit untuk dilacak daripada ketika kejahatan tersebut dijual di sebuah situs web. Geng kriminal merekrut anak-anak yang kurang beruntung atau anak-anak mereka sendiri untuk melakukan hal tersebut. Mereka menawarkan anak-anak tunawisma atau anak-anak dari keluarga mereka sendiri untuk pelecehan seksual oleh individu yang direkam langsung di depan kamera dan kemudian menjualnya di negara Uni Eropa atau negara-negara berkembang untuk keuntungan finansial.

Baru-baru ini polisi Filippina membongkar jaringan pedofil yang melakukan live streaming pemerkosaan yang melibatkan anak-anak berumur enam tahun.Polisi menyelamatkan 15 korban berusia antara enam dan 15 tahun dan menangkap 29 orang termasuk anggota geng dan orang-orang yang diduga dibayar untuk menonton kekerasan seksual terhadap anak di 13 negara.Lebih dari 700 pembeli lain yang dicurigai menonton pelecehan anak secara online yang difilmkan di Filipina.

Untuk tindak kejahatan kekerasan seksual anak yang di-live streaming-kan ini para penjahat meminta imbalan berupa mata uang Bitcoin. Hal ini sesuatu yang wajar karena Bitcoin tidak bisa ditelusuri sehingga keberadaan penjahat tersebut sulit untuk dilacak. Pembayaran menggunakan mata uang virtual seperti Bitcoin membuat penjahat sulit untuk dilacak dibandingkan dengan menggunakan kartu kredit. Peneliti tahun lalu untuk pertama kalinya mengungkapkan bahwa pelecehan anak yang dijual secara eksklusif dilakukan dengan imbalan Bitcoins.

Dengan semakin canggihnya kejahatan seksual terhadap anak secara online, orang tua diminta untuk lebih meningkatkan pengawasan terhadap anak ketika mereka online.

Sumber: Daily Mail