Satu dari Lima Siswa Sekolah Menengah Melakukan Bullying

http://www.dreamstime.com/-image23719279

Pelaku bullying tampaknya terus meningkat. Survei terbaru di Inggris menunjukkan seperlima dari siswa sekolah menengah mengakui mengatakan sesuatu yang menyakitkan kepada seseorang secara online (bullying). Survei juga mengungkapkan remaja laki-laki lebih mungkin untuk melakukan bullying dibandingkan remaja perempuan.

Survei juga mengungkapkan tiga dari  sepuluh siswa sekolah menengah dan lebih dari seperempat siswa sekolah dasar telah mengalami sesuatu yang membuat mereka marah atau takut.

Survei yang dilakukan oleh badan amal pendidikan, Tablets for Schools tersebut menanyakan kepada 7.443 siswa tentang perilaku khas mereka ketika berinternet. Survei tersebut menemukan hampir seperempat remaja tidak memberitahu siapa pun jika mereka memiliki pengalaman negatif secara online.

Hasil survei tersebut diluncurkan bertepatan dengan Safer Internet Day dua hari yang lalu. Survei tersebut juga menunjukkan bahwa hanya 56 persen dari orang tua menggunakan filter internet untuk memoderasi konten meskipun terdapat fakta bahwa setengah dari siswa sekolah menengah dan lebih dari seperempat murid sekolah dasar berkomunikasi dengan orang asing saat menggunakan media sosial.

Survei tersebut sama dengan penelitian terpisah yang dilakukan oleh Action for Children yang mengungkapkan bahwa dari mereka yang mengaku melakukan bullying online, hampir 60 persen melakukannya agar cocok atau masuk dengan kelompok sosial, sementara 43 persen mengatakan mereka melakukan bullying untuk mencegah diri mereka dari intimidasi (bullying). Siswa yang disurvei juga mengungkapkan adanya tekanan teman sebaya dan merasa tidak senang merupakan alasan mereka mem-bully orang lain.

Menurut Deanna Neilson, kepala perlindungan anak di Action for Children mengatakan bahwa bullying online sedemikian umum sesuatu yang mengejutkan. Namun demikian tidak boleh dilupakan fakta bahwa banyak anak-anak ini mem-bully orang lain karena sesuatu yang tidak beres dalam hidup mereka sendiri atau didorong untuk itu karena takut diintimidasi atau dijauhi diri secara sosial.

Sumber: The Telegraph

Sumber Gambar: sidedooryk.com