Tahukah Anda Apa yang Dilakukan Anak Ketika Online?

mw-630-istock-kids-computer-macbook

Internet merupakan aspek yang tak terbantahkan dari kehidupan modern. Anak-anak saat ini praktis dilahirkan dengan iPad/tablet di tangan mereka, dan saat mereka tumbuh dewasa, anak-anak pasti jauh lebih tech-savvy dibandingkan dengan orang tua dan guru mereka.

Namun demikian adalah mudah untuk dilupakan  seberapapun mampunya anak-anak  secara teknologi, mereka masih rentan terhadap ancaman online seperti cyber bullying, pemerasan online dan grooming.

Menurut penelitian baru di Inggris yang dirilis bertepatan dengan Safer Internet Day 2015 oleh ISC)2 Foundation, 22 persen dari anak berusia 11 sampai dengan 16 tahun telah bertemu dengan seseorang yang pertama kali mereka temui secara online.

Lebih dari setengah dari mereka yang bertemu dengan orang asing internet mengklaim pergi ke pertemuan pertama mereka sendiri dan satu dari tujuh mengatakan mereka terkejut dengan usia orang asing yang mereka temui ketika mereka pertama kali bertemu.

Sementara itu, 18 persen dari mereka yang berusia 11 sampai dengan 16 tahun menggunakan ruang chatting di internet setiap hari, 29 persen telah memposting foto diri mereka yang mana foto tersebut tidak boleh diketahui oleh keluarga mereka dan 32 persen menerima foto yang membuat mereka merasa tidak nyaman atau marah sehingga mereka tidak mau berbicara kepada siapa pun tentang hal tersebut.

Hal yang mungkin paling mengkhawatirkan adalah 68 persen anak-anak yang disurvei mengatakan orang tua mereka tidak pernah memeriksa apa yang mereka lakukan secara online.

Bagaiman dengan kondisi di Indonesia?

Sejauh ini agak sulit untuk mendapatkan data serupa di Indonesia. Namun bila kita lihat kasus-kasus belakangan ini, terlihat makin tingginya ancaman bagi anak-anak yang online. Kasus pedofilia di Surabaya contohnya merupakan salah satu pertanda bahwa orang tua tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh anaknya ketika online.

Meskipun butuh data yang akurat, dapat diperkirakan, sebagian besar orang tua di Indonesia tidak tahu apa yang dilakukan anak mereka ketika online. Banyak orang tua membiarkan begitu saja anak mereka ketika online. Bahkan ada kecenderungan melepas anak online agar lebih bisa diawasi di rumah daripada bermain di luar rumah. Padahal ranah online lebih berbahaya bagi anak karena mereka sama sekali tidak mengetahui ranah online tersebut.

Untuk itu adalah sangat mendesak bagi orang tua untuk mengetahui apa yang dikerjakan anak ketika online. Orang tua harus punya aturan yang disepakati bersama dengan anak, tegas menegakkan aturan tersebut dan mau mendampingi anak ketika mereka online. Kelalaian orang tua dalam mengawasi anak online akan berbuah berbagai peristiwa yang tidak diharapkan seperti penculikan atau bahkan dijadikan sasaran kekerasan seksual orang dewasa.

Sumber: Dirangkum dari The Telegraph