Anak Usia 7 Tahun Terlibat Foto dan Video Seksual Eksplisit

child-and-mother-internet

Peringatan kepada orang tua untuk mengawasi anak-anaknya ketika online tidak henti-hentinya dikampanyekan. Namun demikian, masih sangat banyak orang tua yang membiarkan anaknya sendirian ketika online. Hal ini bisa mendorong terlibatnya anak-anak dalam foto dan video seksual eksplisit.

The Internet Watch Foundation (IWF) telah merilis sebuah laporan yang membuat para orang tua mengernyitkan dahi. Laporan tersebut mengungkapkan sejumlah besar anak-anak, sebagian masih berusia tujuh mem-posting gambar porno dari diri mereka sendiri secara online dan membiarkan orang asing untuk melihat mereka dalam pose seksual melalui webcam di kamar tidur mereka.

Dalam tiga bulan, hampir 4.000 foto atau video (seksual eksplisit) yang diupload. Sejumlah besar anak-anak yang tampil berusia 15 tahun ke bawah. Banyak yang diyakini berusia 10 tahun atau lebih muda. Konten tersebut berisiko dilihat oleh pelaku kejahatan seksual. Beberapa orang dewasa malah mendorong anak-anak untuk melakukan tindakan seksual sehingga mereka dapat melihat dan membagikan materi tersebut.

Fakta lain yang terungkap adalah  selama 12 bulan terakhir anak-anak berumur 11 tahun menjadi korban balas dendam porno.

Hal yang mengkhawatirkan adalah laporan terbaru ini menunjukkan bahwa mungkin hal tersebut hanya fenomena gunung es. Artinya masih sangat banyak kasus lainnya yang tidak terungkap dan melibatkan anak-anak yang masih sangat muda.

Teknologi berkembang dengan kecepatan tinggi. Teknologi telah mengubah cara berinteraksi dengan orang-orang dan meningkatkan jalur akses ke kehidupan anak-anak. Orang tua tidak lagi bisa mengatakan anak-anak mereka aman ketika mereka berada di kamar tidur di rumah sebab tersedia chat room, webcam, situs kencan online dan aplikasi smartphone yang  menyajikan berbagai macam ancaman.

Hal yang paling mengganggu adalah bahwa teknologi mempersenjatai pedofil atau predator dengan alat untuk menjerat calon korban. Keamanan platform media sosial, aplikasi, ponsel dan perangkat lain semuanya dapat dikompromikan.

Ini artinya orang tua tidak bisa berlepas tangan dan harus makin memahami bahwa tantangan dunia online sangat keras terhadap anak-anak. Orang tua harus benar-benar bisa mengawasi dan mengaudit kegiatan online anak agar tidak terperosok dan menjadi korban kejahatan seksual online.

Sumber: The Telegraph