Kasus Pornografi Anak Meningkat Dua Kali Lipat

child-abuse

Internet Watch Foundation memperingatkan terjadinya peningkatan komersialisasi gambar pelecehan anak dengan beberapa bahkan diperdagangkan untuk mata uang digital bitcoin. Jumlah halaman web pornografi anak yang diidentifikasi oleh Internet Watch Foundation lebih dari dua kali lipat daripada tahun lalu sebagai akibat pedofilia online semakin melakukan komersialisasi.

Internet Watch Foundation (IWF) mengatakan jumlah halaman web yang ditemukan dengan gambar pelecehan seksual anak meningkat menjadi lebih dari 31.000, dibandingkan dengan hanya lebih dari 13.000 pada tahun 2013. Namun tren yang sangat mengganggu adalah lebih dari 3.700 situs yang dijalankan sebagai operasi komersial, meningkat 17 persen dari tahun sebelumnya.

Para pedofil semakin sering menggunakan mata uang bitcoin untuk membeli gambar anak-anak yang diperkosa dan disiksa di mana transaksi akan dienkripsi dan oleh karena itu hampir tidak mungkin untuk melacaknya .Gambar ilegal yang sedang host melakukan penyamaran disamarkan di situs yang di permukaan menawarkan pornografi dewasa, tetapi sebenarnya mengandung konten ilegal ketika mereka diakses dengan cara tertentu. Penjahat lainnya menggunakan cyberlockers atau layanan hosting file offline untuk berbagi materi ilegal dimana pedofil dapat mengakses melalui layanan premium.

Menurut IWF terdapat tren yang sedang berkembang menuju bentuk-bentuk baru dari metode komersial untuk mendistribusikan materi pelecehan seksual anak. Tren tersebut termasuk menggunakan situs terselubung atau penggunaan mekanisme pembayaran alternatif seperti bitcoin.

IWF mengatakan bahwa 95 halaman web yang berbasis di Inggris telah dihapus pada tahun 2014 karena mereka merupakan sumber foto dan video pelecehan seksual anak. Sekitar 89 persen dari situs di Inggris berisi gambar anak-anak berusia 10 atau di bawahnya naik 65 persen dibandingkan tahun 2013. Susie Hargreaves, chief executive IWF mengatakan industri online meningkatkan upaya untuk mengatasi gambar pelecehan seksual anak, tetapi banyak perusahaan tidak mengakui mereka punya masalah atau terlalu lambat untuk merespon.

Sumber: The Telegraph