Mengapa Multitasking Jelek Bagi Otak Anda?

rsz_multitasking-woman

Seberapa banyak tab browser yang Anda buka saat ini? Lebih dari 10? Atau mungkin 20? Beberapa tab yang Anda buka mungkin untuk research, sebagian untuk membantu agar tetap berhubungan dengan klien dan kolega, lainnya mungkin untuk kesenangan stalking. Namun demikian apa pun tujuan dibukanya tab tersebut, mereka tidak membantu.

Sekarang ini hampir tidak mungkin bagi kita untuk duduk dan bekerja hanya pada satu tugas. Kadang kita mengerjakan pekerjaan utama di komputer, diselingi dengan memeriksa email, kadang melakukan chatting dan menulis blog. Kita tidak bisa lagi tidak mau tahu apa yang terjadi saat kita melakukan sesuatu karena semuanya minta ditanggapi.

Beralih di antara tugas-tugas yang berbeda membuat kita merasa sesak napas, setiap harinya sekian banyak tugas yang harus diselesaikan secara simultan, namun hasil yang dicapai ternyata sedikit. Bahkan di malam hari kita tidak juga belajar. Kita makan malam sambil menonton televisi atau mendengarkan radio saat membaca buku. Pertanyaannya mengapa kita begitu buruk sehingga tidak bisa fokus ke satu hal/tugas?

Bukti menunjukkan bahwa multitasking buruk bagi otak kita. Multitasking membuat kita stres. Multitasking telah terbukti memicu pelepasan hormon stres, kortisol yang memengaruhi segala sesuatu dari kapasitas mental hingga kepadatan otot.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa bahkan memiliki kesempatan untuk multitasking saja bisa menurunkan kemampuan untuk memecahkan masalah dan efektifitas mengelola tugas. Dengan hanya memiliki email yang belum dibaca di inbox, bisa merusak produktivitas.

Penelitian menunjukkan bahwa multi-taskers (pelaku multitasking) sebenarnya jauh lebih buruk saat beralih di antara tugas-tugas yang berbeda dan tuning kepada informasi yang tidak relevan.

Sumber: The Next Web

Sumber Gambar: Live Science