6 Tahap Sexual Grooming terhadap Anak (Bagian 2)

child-abuse

Tiga tahap sebelumnya dapat dilihat di sini.

Tahap 4: Mengisolasi Anak

Pelaku sexual grooming menggunakan hubungan khusus yang terus berkembang dengan anak untuk menciptakan situasi di mana mereka bisa berdua saja. Isolasi ini pada akhirnya akan lebih memperkuat hubungan khusus antara pelaku dengan anak. Biasanya dalam masa isolasi ini pelaku memberikan bimbingan dan pembinaan khusus kepada anak.

Hubungan istimewa ini kemudian lebih diperkuat ketika pelaku memupuk rasa pada anak bahwa ia dicintai atau dihargai dengan cara yang lain, tidak seperti yang orang tua mereka berikan. Di sini pelaku makin dalam memberikan hal yang berbeda dibandingkan orang tua. Misalnya orang tua yang kaku dan jarang bercanda dengan anak, membuat pelaku leluasa memberikan cerita lucu atau sesuatu yang menarik yang tidak pernah diberikan orang tua sebelumnya.

Tahap 5: Sexualizing Hubungan

Pada tahap ini anak sudah mengalami ketergantungan emosional dan kepercayaan yang cukup sehingga pelaku semakin leluasa untuk mengeksploitasi anak secara seksual. Ekploitasi sesksual dapat terjadi dengan berbagai macam cara, misalnya melalui pembicaraan, gambar, video bahkan menciptakan situasi sendiri seperti pergi berenang bersama di mana pelaku dan korbannya telanjang. Pada tahap ini, pelaku mengeksploitasi rasa ingin tahu alami anak, menggunakan rasa stimulasi untuk memperdalam seksualitas dari hubungan tersebut.

Tahap ini sangat berbahaya jika terjadi. Orang tua karena kesibukannya, jarang sekali mengecek dengan siapa anak berenang, dengan siapa ia melakukan video chatting atau anak mengirimkan foto bagian genital mereka kepada orang lain tanpa orang tua pernah mengetahui.

Tahap 6: Mempertahankan Kontrol

Setelah pelecehan seks terjadi, pelaku biasanya menjaga kerahasiaan dan menyalahkan anak untuk mempertahankan partisipasi anak dan dan membuat mereka tetap diam. Hal ini terutama karena aktivitas seksual dapat menyebabkan anak menarik diri dari hubungan. Tidak jarang pelaku melakukan ancaman tertentu agar anak terus berada dalam hubungan tersebut.

Anak-anak yang terjerat hubungan cenderung disalahkan pelaku dan diberikan ancaman agar tak mengakhiri mengakhiri hubungan. Selain itu ancaman diakhirinya kasih sayang atau materi yang selama ini diberikan  membuat anak tak berkutik dan terpaksa untuk terus berada dalam hubungan. Anak tentu saja takut bila hubunga tersebut diekspos yang akan mempermalukan dan membuat mereka bahkan lebih tidak diinginkan.

Sekali lagi perang orang tualah yang bisa mengakhiri hubungan ini. Orang tua dengan kasih sayangnya bisa membujuk anak untuk bercerita. Mulailah dengan lemah-lembut. Jangan menyalahkan anak karena hal tersebut terjadi tidak sepenuhnya kesalahan mereka.

Sumber: Diadaptasi dari oprah.com