Net Neutrality Mendapat Tantangan

12217_large_neutral-bits

Beberapa waktu terakhir prinsip net neutrality mendapat tantangan yang cukup keras, terutama dari program internet gratis Facebook, yaitu internet.org. Namun, mungkin ini baru permulaan karena di masa depan tantangan terhadap aplikasi net neutrality ini dipercaya akan semakin besar.

Net neutrality adalah prinsip yang mengatakan bahwa semua lalu lintas data internet harus diperlakukan sama dan konten tidak diprioritaskan berdasarkan sumbernya.

ISP percaya bahwa mereka memiliki hak untuk menciptakan apa yang disebut jalur cepat atau jalan tol, di mana pembuat konten yang membayar untuk menggunakan ISP akan menerima bagian yang lebih besar dari bandwidth dan layanan yang lebih baik. Produsen konten skala besar secara alami mendukung jalur cepat ISP dan bersedia membayar harga tinggi untuk menggunakannya untuk konten mereka.

Di AS, Federal Communications Commission (FCC) baru-baru ini memperkenalkan peraturan baru untuk mendukung netralitas internet atau net neutrality ini. FCC secara efektif mereklasifikasi ISP sebagai utilitas publik dan mengharuskan semua konten di internet diperlakukan sama. Hal ini tentu membuat ISP khawatir karena bisa membatasi peluang pendapatan mereka serta membuat mereka dan beberapa produsen konten khawatir bahwa mungkin tidak bisa diprioritas di masa depan.

Raksasa telekomunikasi dari AS AT & T baru-baru ini mempublikasikan sebuah permohonan paten teknologi pengaturan yang bisa memprioritaskan konten beberapa pelanggan dan memberikan mereka koneksi yang lebih baik, sebaliknya membuat akses lebih sulit untuk file share atau pelanggan yang tidak membayar untuk layanan premium.

Jenis teknologi bisa dimanfaatkan oleh penyedia konten seperti Netflix dan Amazon untuk mengamankan prioritas bagi konten mereka. ISP juga mengajukan banding atas keputusan FCC untuk mereklasifikasikan mereka sebagai utilitas dan sangat menentang prinsip net neutrality dengan alasan bahwa tidak ada kebutuhan untuk mengatur kekuatan pasar yang kompetitif dalam last mile.

Pertentangan akibat prinsip net neutrality juga terjadi di Eropa. Reformasi net neutrality yang ambisius telah diajukan oleh regulator di Brussels. Reformasi tersebut mengusulkan bahwa semua lalu lintas internet diperlakukan sama, kecuali dalam keadaan khusus tertentu. Namun, Inggris, bersama dengan 27 negara anggota Uni Eropa lainnya, baru-baru ini memutuskan untuk mengubah proposal dengan memungkinkan beberapa penyedia konten untuk memprioritaskan konten yang sensitif terhadap waktu.

Sejauh ini tidak ada pihak yang sepenuhnya puas. Mereka yang mendukung net neutrality percaya bahwa jika pemerintah tidak mengambil langkah-langkah untuk memastikan semua data diperlakukan sama maka bandwidth akan dilelang untuk korporasi besar, yang pada akhirnya akan menghambat inovasi dan kompetisi. Selain itu, para pendukung berpendapat, ISP besar bisa berada dalam situasi konflik ketika mereka mulai memproduksi dan mendistribusikan konten mereka sendiri.

Di sisi lain dari perdebatan, ISP percaya bahwa diskriminasi data harus memainkan peranan penting dalam memfasilitasi layanan berbasis internet berkualitas tinggi kepada pelanggan yang membutuhkan jumlah bandwidth yang terus meningkat, dan bahwa ada hukum anti-trust  yang cukup bisa untuk mencegah pelanggaran.

Untuk inovator berbasis web masalah net neutrality juga sangat penting. Tanpa tersedianya dana untuk membayar prioritas, usaha kecil dan start-up akan memiliki kesempatan yang sedikit untuk konten mereka karena mereka bukan prioritas karena tidak mampu membayar.

Langkah FCC mereklasifikasi ISP sebagai utilitas publik perlu didukung karena hal ini menjamin ISP tidak bermain-main dan melakukan prioritas terhadap konten tertentu yang berani membayar mahal. Hal ini pada akhirnya akan menumpulkan inovasi dan membuat persaingan yang tidak sehat.

Sumber: The Telegraph