Tak Lama Lagi Sistem Pemungutan Suara Elektronik Jadi Kenyataan

computer-voting_3290628b

Untuk saat sekarang ini atau beberapa waktu yang lalu, sistem pemungutan suara elektronik mungkin hanya mimpi dan semacam olok-olok. Anda mungkin pernah menonton film Man of The Year di mana sistem pemungutan suara eletronik memilih acara talk show sebagai presiden. Hal ini adalah sindiran bahwa sistem pemungutan suara elektronik ini bisa saja salah dan rawan terhadap serangan dari luar seperti hacking.

Namun hal itu tidak menyurutkan pihak-pihak yang berupaya terwujudnya sebuah sistem pemungutan suara elektronik. Salah satunya adalah Professor Mark Ryan dari University of Birmingham, Inggris.

Professor Mark Ryan mengatakan bahwa ia telah membangun sebuah sistem pemungutan suara elektronik yang cukup aman untuk menahan serangan dari luar dan juga bisa mengurangi kecurangan pemilu. Ia memimpin tim di universitas Birmingham untuk mengembangkan sistem yang menurutnya cukup aman untuk menangkal serangan potensial dari negara adidaya asing yang mungkin mencoba untuk memengaruhi hasil pemilu.

Profesor Ryan mengatakan bahwa sistem yang dibangun oleh timnya membutuhkan lebih banyak pengujian sebelum diyakini sepenuhnya aman. Ia memperkirakan bahwa orang Inggris dapat memberikan suara secara elektronik pada pemilihan umum tahun 2025. Itu artinya 10 tahun dari sekarang.

Sistem ini membutuhkan waktu pembuatan selama dua setengah tahun. Sistem tersebut didasarkan pada sitem pembaca kartu yang digunakan dalam perbankan online. Sistem ini melibatkan perangkat terpisah, seukuran kartu kredit yang kecil dan cukup mampu menghindari kerentanan terhadap virus sederhana serta akan terhubung ke komputer pemilih. Profesor Ryan mengatakan bahwa dengan keamanan yang tepat, ia berharap sistem elektronik bisa melindungi dari kecurangan.

Nantinya akan ada otentikasi yang lebih baik dari pemilih dan pencegahan paksaan terhadap pemilih dan manipulasi hasil. Dia menambahkan bahwa manfaat lain pemungutan suara elektronik dapat mencakup peningkatan jumlah pemilih, terutama di kalangan anak muda karena mereka hidup sepenuhnya secara online.

Sumber: The Telegraph

Sumber Gambar: The Telegraph