Waktu di Layar versus Waktu Bermain Anak

Boy-playing-on-computer-012

Perangkat bergerak saat ini dipakai siapa saja, bahkan balita. Banyak sekali kita melihat balita yang melakukan berbagai kegiatan melalui layar smartphone atau tablet. Orang tua juga cenderung membiarkan anak mereka berlama-lama di layar dengan alasan agar lebih mudah dikontrol. Bahkan ada kecenderungan memberikan smartphone atau tablet agar anak-anak mereka tidak bermain ke luar rumah.

Padahal sebagaimana banyak diketahui mereka yang membuat perangkat tersebut sangat membatasi waktu di layar anak-anak mereka. Tentu suatu yang patut dipertanyakan bila mereka yang membuat iPad (Steve Jobs) dan perancang iPad Jonathan Ive sangat membatasi waktu di layar anak-anak mereka.

Sebuah sekolah di Silicon Valley, yaitu Steiner Waldorf melarang siswa mereka memiliki waktu di layar sebelum usia 12 tahun dan lebih memprioritaskan aktivitas fisik, seni dan experimental learning. Sekolah ini menjadi pilihan banyak eksekutif Silicon Valley untuk menyekolahkan anak mereka. Hal ini tiada lain karena anak tidak boleh bermain dengan perangkat.

Pendekatan yang dilakukan oleh Steiner Waldorf tentu saja lebih ketat dari yang direkomendasikan oleh The American Academy of Pediatrics. The American Academy of Pediatrics merekomendasikan tidak ada waktu di layar bagi anak-anak selama dua tahun pertama usia mereka. Namun setelah usia tersebut mereka merekomendasikan waktu tidak boleh lebih dari satu hingga dua jam waktu di layar bagi anak dalam satu hari, tidak boleh layar (TV atau perangkat lain) di tempat tidur mereka.

Di Inggris, National Institute for Health and Care Excellence merekomendasikan untuk hari tanpa televisi atau mengurangi waktu menonton televisi kurang dari dua jam sehari untuk mempertahankan berat badan yang sehat.

Menurut Ofcom Media Use and Attitudes Report, tujuh dari 10 anak-anak usia lima sampai 15 tahun di Inggris memiliki akses ke komputer tablet, dengan 34% memiliki tablet sendiri. Rumah tangga sering memiliki lebih dari satu laptop, smartphone, konsol game dan TV.

Ada kekhawatiran bahwa perangkat ini memiliki dampak negatif terhadap  rentang perhatian dan perkembangan sosial anak-anak serta kesehatan fisik mereka plus kekhawatiran tambahan paparan konten seksual, kekerasan dan cyberbullying.

Untuk itu, ada baiknya Anda sebagai orang tua membatasi akses anak terhadap perangkat berlayar seperti smartphone, televisi dan tablet. Jangan jadikan kesulitan dalam mengontrol mereka ketika bermain sebagai alasan untuk memberikan mereka perangkat yang memiliki dampak negatif yang lebih besar bagi perkembangan mereka.

Ada baiknya Anda sebagai orang tua mendorong anak-anak untuk senang bermain sesama mereka. Biarkan ia bermain di luar rumah (tentu saja dengan pengawasan), berlari atau berkejaran atau bersepeda. Perbanyaklah waktu anak bermain dengan temannya atau dengan orang tua dan anggota keluarga yang lain sehingga waktu mereka di layar menjadi berkurang.

Sumber: The Guardian