Bentengi Pelajar dari Radikalisme, Maarif Institute Gelar Pesantren Jurnalistik Ramadhan

pesantran ram

Lembaga kajian Maarif Institute menggelar pelatihan jurnalistik yang bernama Pesantren Jurnalistik Ramadhan selama tiga hari, Jumat sampai Minggu (26-28/6) di gedung SMKN 57, Jalan Taman Margasatwa 38-B, Jatipadang, Jakarta Selatan.

Pesantren Jurnalistik ini diikuti 30 pelajar aktivis Rohis dari berbagai daerah di Pulau Jawa, melalui sebuah proses perekrutan selektif dan penjaringan peserta yang tersasar. Beberapa daerah tersebut diantaranya adalah DKI Jakarta, Pandeglang, Garut, Tasikmalaya, Surakarta, Yogyakarta, Temanggung, dan Surabaya.

Adapun narasumber dalam Pesantren Jurnalistik berasal dari Dewan Pers, Aliansi Jurnalis Indonesia, Jurnalis Harian Umum Kompas, Jurnalis Harian Republika, Gerakan Islam Cinta, ICT Watch dan akademisi pemerhati media. Kegiatan yang diselenggarakan Maarif Institute ini didukung Direktorat PSMA Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Aliansi Jurnalis Indonesia, dan Gerakan Islam Cinta.

“Selama tiga hari ini kami memadukan antara kegiatan keagamaan yang khas nuansa Ramadhan dengan kegiatan jurnalistik sebagai bagian inti pelatihan,” jelas Ketua Panitia Pesantren Jurnalistik, Pipit Aidul Fitriyana.

“Kegiatan ini merupakan salah satu tindak-lanjut dari kegiatan Jambore Pelajar Muslim se-Pulau Jawa yang kami lakukan pada tahun lalu,” sambungnya.

Direktur Program Maarif Institute, Muhd. Abdullah Darraz, menjelaskan Pesantren Jurnalistik Ramadhan untuk membentengi para pelajar dari ancaman radikalisme dan sektarianisme yang gencar ditularkan melalui berbagai media online.

Sebab, saat ini media sosial dengan mudah digunakan untuk menyebarkan kebohongan, fitnah, dan pandangan ekstrim yang menghasilkan kebencian. Seringkali itu dilakukan atas dasar sentimen keagamaan atau mazhab tertentu.

“Padahal pengguna media sosial itu sendiri tidak sedikit berasal dari kalangan generasi muda, khususnya pelajar. Alih-alih menjadi sumber informasi yang berimbang, media online seringkali meracuni generasi muda dengan sajian-sajian yang berbau radikal dan sektarian,” lanjutnya.

Karena itu dia menambahkan, kegiatan tersebut memiliki dua tujuan. Pertama, membekali pelajar tentang media literacy, yakni kemampuan untuk menganalisis berbagai materi informasi yang disuguhkan melalui media online, sehingga bisa dibedakan mana produk jurnalistik dan mana yang bukan produk jurnalistik seperti berita yang mengandung fitnah atau propaganda.

“Mereka dibekali dengan keterampilan untuk membedakan berita-berita bohong ‘hoax’, pesan berantai, ataupun foto-foto yang telah direkayasa untuk kepentingan propaganda kebencian,” jelas Darraz.

Sedangkan tujuan kedua adalah memperkuat keterampilan menulis para pelajar sebagai alat kampanye Islam damai di media, terutama di media sosial. Dalam hal ini para pelajar akan dituntut untuk secara produktif membuat karya tulis yang bernilai jurnalistik berupa esai, berita, atau cerpen.

Karya-karya ini akan dihadirkan melalui portal online. Para pelajar akan diberikan keterampilan teknis untuk mengelola portal online tersebut.

“Sebagai langkah tindaklanjut dari pesantren jurnalistik ini, para peserta akan diarahkan untuk mengelola sebuah portal website yang bertujuan untuk menyuarakan pandangan moderat, terbuka, dan non-sektarian. Mereka akan menjadi bagian dari keredaksian online yang mengelola portal berita online,” tandas Aidul Fitriyana menambahkan.

Sumber: Rakyat Merdeka

Sumber Foto: Maarif Institute