Facebook, Google, Twitter Tidak Menyerahkan Data ke Badan Mata-mata Inggris

rsz_cyber-security-2

Twitter, Google, Facebook dan perusahaan internet lainnya tidak menyerahkan bukti potensial tersangka teroris ke badan mata-mata Inggris bahkan ketika hidup dipertaruhkan (potensi risiko ada). Beberapa permintaan mendesak untuk akses komunikasi dari target (teroris) ditolak oleh perusahaan tersebut meskipun ada ancaman terhadap kehidupan. Hal ini diungkapkan oleh utusan khusus Perdana Menteri Inggris beberapa hari yang lalu.

Utusan khusus Perdana Menteri Inggris, Sir Nigel Sheinwald mengatakan kerja sama antara agen mata-mata Inggris dan polisi serta perusahaan  internet terutama yang berbasis di AS untuk lebih berbagi data masih belum tuntas.

Ia memperingatkan permintaan mendesak tidak akan ditangani dengan cukup cepat kecuali perjanjian internasional baru dibuat di antara berbagai kelompok.

Perusahaan internet dan komunikasi berada di bawah tekanan karena kurangnya upaya mereka dalam meningkatkan kerja sama dengan agen mata-mata dan polisi, terutama setelah adanya bocoran dari Edward Snowden terkait mass surveillance.

Awal bulan ini Twitter dan penyedia layanan lainnya bersedia untuk mengingatkan tersangka teroris atau penjahat jika mereka sedang dipantau oleh mata-mata atau polisi, kecuali bila diperintahkan untuk tidak melakukan hal tersebut.

Dalam ringkasan laporan yang diterbitkan untuk pertama kalinya Sir Nigel mengatakan bahwa sejak September tahun lalu, Inggris bekerja sama dengan perusahaan pada permintaan data paling mendesak, terutama di bidang kontra terorisme dan ancaman lain terkait kasus ancaman terhadap kehidupan dan perlindungan anak.

Bantuan perusahaan-perusahaan dalam kasus ini telah meningkat, menunjukkan nilai keterlibatan aktif mereka, namun kerja sama tetap tidak lengkap. Ia mengatakan saat ini sistem berbagi data lambat dan birokratis sehingga bisa memakan waktu berbulan-bulan untuk menyampaikan informasi yang mereka butuhkan.

Sumber: The Telegraph