Rahasia Kehidupan Anak Online: Sexting, Webcam dan Kontes WhatsApp

rsz_file_108375_0_101006-gril-bed-texting

Teknologi berkembang dengan kecepatan tinggi. Teknologi telah mengubah cara kita berinteraksi dengan orang-orang dan meningkatkan jalur akses ke kehidupan kita. Untuk melihat dampak teknologi, cobalah tengok kamar anak remaja Anda. Anak remaja Anda mungkin saja secara sembunyi-sembunyi melakukan sexting, webcam dan kontes WhatsApp saling mengirimkan foto eksplisit.

Di Inggris National Crime Agency (NCA) telah mengumumkan adanya kampanye untuk memberikan saran tentang bagaimana orang tua merespon jika anak remaja  terlibat dalam sexting. Hal ini karena praktik sexting dan mengirimkan foto telanjang atau eksplisit melalui internet telah menjadi normal di kalangan remaja dan mereka jarang memikirkan konsekuensinya.

Dalam beberapa kasus remaja di bawah usia 18 tahun telah ditipu untuk mengirimkan foto-foto intim mereka ke pelaku seks dewasa yang kemudian berusaha untuk memeras mereka agar mau mengirimkan lebih banyak foto intim. Hal ini disebut dengan sextortion. Kasus serius lainnya melibatkan gambar seksual yang dikirim secara pribadi untuk pacar, kemudian sang pacar mendistribusikan foto tersebut setelah hubungan renggang atau putus.

Laporan Internet Watch Foundation (IWF) mengungkapkan bahwa sejumlah besar anak, sebagian masih berusia tujuh tahun mengeposkan foto eksplisit diri mereka secara online dan memungkinkan orang asing untuk melihat mereka dalam pose seksual melalui webcam di kamar tidur mereka.

Selama periode tiga bulan, hampir 4.000 foto atau video yang diunggah. Sebagian dari korban yang tampil dalam foto dan video tersebut masih berusia 15 tahun atau kurang. Banyak yang diyakini berusia 10 tahun atau lebih muda. Konten tersebut berisiko dilihat oleh pelaku kejahatan seksual terhadap anak.

Kasus-kasus tersebut tentu perlu ditanggulangi. Orang tua perlu khawatir dan awas kalau-kalau anak-anak mereka terlibat sexting, webcam atau kontes WhatsApp. Orang tua perlu memberikan nasihat dan peraturan agar anak tidak jatuh kepada kondisi berisiko.

Orang tua perlu mengevaluasi apa saja kegiatan online yang dilakukan anak. Lakukanlah evaluasi tersebut dengan baik. Mintalah perangkat untuk dievaluasi dengan cara sebaik mungkin sehingga anak tidak merasa dicurigai. Tanamkan kepada anak bahwa tindakan itu semata untuk melindungi dirinya dari kejahatan yang tak terperkirakan dan mungkin saja terjadi.

Sumber: The Telegraph

Sumber Foto: momtastic.com