Twitter dan Facebook Memungkinkan Terjadinya Pasar Obat Palsu

rsz_9314f528-0305-4d39-a2ea-690f8f5d6bbc-2060x1236

Pihak berwenang di Inggris memperingatkan bahwa situs media sosial Facebook dan Twitter telah memungkinkan proliferasi pasar obat-obatan terlarang dan obat palsu dalam skala besar.

Regulator mengkritik situs Facebook dan Twitter karena membiarkan pengguna anonim mengiklankan produk obat-obatan tanpa izin. Hal ini dilakukan saat diumumkannya penyitaan obat ilegal senilai lebih dari 15 juta pound.

Penyitaan tersebut termasuk  yang terbesar yang pernah ada sampai saat ini. Obat-obatan ilegal yang disita tersebut pil pelangsing, tablet disfungsi ereksi, pil anemia dan tablet narkolepsi dalam jumlah besar dan berpotensi berbahaya.

Obat asing tanpa izin dan kondom palsu juga termasuk di antara barang-barang yang disita menyusul operasi oleh Medicines and Healthcare products Regulatory Agency (MHRA) Inggris.

Operasi ini juga mengakibatkan 1.380 situs ditutup. Mark Jackon, pimpinan MHRA mengatakan penjahat semakin banyak menggunakan media sosial untuk menjual barang-barang ilegal mereka.

Dia menambahkan bahwa terdapat tweet tentang penjualan Viagra di Twitter yang di dalam tweet tersebut ditemukan link menuju situs web sehingga meskipun ada batasan 140 karakter, kriminal masih dapat menempatkan penjualan obat ilegal dan bisa berlaku  anonim.

Tidak ada keraguan media sosial memberikan kesempatan yang fantastis jika Anda mencoba untuk menjual produk, apakah sah atau tidak sah, dan sama-sama menyediakan pilihan anonimitas jika Anda melakukan sesuatu yang ilegal.

MHRA mengatakan aparat penegak hukum dan polisi menggerebek sejumlah alamat dan menyita hampir 6,2 juta dosis yang dipalsukan, obat-obatan palsu dan tanpa izin, 15.000 item di antaranya adalah perangkat medis dengan nilai total 15,8 juta pound.

Di Indonesia sepertinya hal ini juga sudah mulai terlihat. Beberapa waktu lalu ditemukan banyak tweet di Twitter yang menjual obat-obatan. Selain itu, ada juga akun yang mengaku melakukan jual-beli bayi. Hal ini sangat meresahkan dan perlu tindakan nyata aparat hukum untuk membasminya.

Sumber: The Telegraph