Anak-anak Seharusnya Bisa Menghapus Foto Mereka di Web

rsz_file_108375_0_101006-gril-bed-texting

Anak-anak merupakan sisi yang tidak pernah diperhitungkan sewaktu internet pertama kali dikembangkan. Sejak kelahirannya internet tidak dirancang untuk digunakan oleh anak-anak. Namun seiring kemajuan, kini anak-anak atau mereka yang berada di bawah usia 18 tahun merupakan pengguna internet yang jumlahnya kian meningkat sehingga informasi tentang mereka, terutama foto bertebaran di intenet, baik yang diupload oleh mereka sendiri maupun oleh orang lain.

Hal ini menjadi tantangan tersendiri karena internet tidak dirancang dengan pendekatan anak-anak sehingga informasi tentang mereka bisa diperjualbelikan atau disalahgunakan. Untuk itulah perlu suatu pendekatan baru di mana anak-anak memiliki pilihan untuk menghapus informasi yang memberatkan atau foto-foto diri mereka yang diposting online.

Di Inggris, serangkaian hak internet untuk mereka yang berada di bawah 18 tahun telah diusulkan untuk menghindari rasa malu atau kekhawatiran terhadap prospek pekerjaan di kemudian hari. Bisnis dan organisasi  didesak untuk menandatangani iRights yang juga menyerukan tanggal kedaluwarsa untuk data yang berkaitan dengan mereka yang berada di bawah 18 tahun.

Usulan kebijakan ini dipimpin oleh Baroness Kidron yang menginginkan situs menyediakan fitur tombol DELETE sehingga memungkinkan anak muda untuk meminta informasi yang diposting online dihapus.

Kebijakan ini juga didukung oleh Joanna Shields, mantan direktur Google di Eropa. Ia menambahkan IRights memberikan wawasan yang unik tentang bagaimana pemerintah dapat bergabung dengan perusahaan teknologi, masyarakat sipil dan bisnis untuk membuat dunia digital yang lebih baik bagi orang-orang muda.

Anak-anak dan orang muda harus memiliki hak untuk tahu siapa yang memegang atau mengambil keuntungan dari informasi mereka, untuk apa informasi (tentang mereka) digunakan, dan apakah informasi tersebut digandakan, dijual atau diperdagangkan.

Rencana ini mendapat dukungan dari mesin pencari Mozilla, Microsoft, badan amal termasuk Barnados dan Save the Children dan asosiasi pramuka serta guru dan kelompok orang tua.

Sumber: The Telegraph