Menghadang Terorisme Butuh Alat yang Lebih Baik

ISIS Al-Qaeda Militants Fighting Syrian Civil War

Aksi teror kini sudah menjadi keseharian di dunia. Setiap hari kita menonton berita televisi atau membaca berita koran tentang teror di berbagai tempat. Tempat-tempat wisata bahkan masjid/gereja sering menjadi tempat yang dipilih teroris guna melipatgandakan akibat tindakan teror mereka. Pertanyaannya tentu saja di mana peran polisi dan intelijen dalam mendeteksi sebelum terjadinya aksi teror tersebut?

Tanggapan publik terhadap ancaman teroris tersebut akan terus merujuk  sebagian besar pada usaha tak terlihat polisi dan intelijen dalam mendeteksi, mengganggu dan menghalangi plot yang akan dilakukan teroris. Di Inggris, polisi dan inteligen sejauh ini telah sangat berhasil dalam menghadang ancaman ISIS. Namun kemampuan mereka diganggu oleh kemunculan bocoran dari Edward Snowden yang memberi informasi kepada teroris tentang kerentanan mereka sehingga lebih mudah bagi para teroris untuk menghindari deteksi.

Terhadap hal ini ada kebutuhan mendesak untuk menyediakan bagi polisi dan badan intelijen kewenangan yang diperlukan untuk beroperasi secara efektif di bidang digital.

Selain itu, sama pentingnya, tetapi bahkan mungkin tugas yang lebih sulit, yaitu melawan narasi ekstremis teroris. Perlu adanya melancarkan semacam perang gagasan agar publik memahami dan tidak mau terlibat dan jatuh ke ISIS atau gerakan teroris lainnya.

Selain itu, gagasan kewenangan bagi polisi dan intelijen yang diperluas di bidang digital mungkin perlu diterapkan. Namun tentunya sebelumnya harus dibicarakan secara detail apa saja kewenangan yang bisa polisi dan intelijen lakukan terhadap kegiatan online publik. Dengan kata lain perlu usaha kontra terorisme yang terpadu, namun tidak menyalahi prinsip privasi pengguna.

Usaha kontra terorisme secara digital sangat terkait dengan privasi. Apa yang telah dibocorkan oleh Edward Snowden menjadi pelajaran bagi banyak orang tentang kegiatan mata-mata yang dilakukan badan intelijen seperti NSA dan GCHQ. Tentu mereka tidak mau lagi menjadi  korban kegiatan serupa di masa depan. Namun yang pasti mereka juga tidak mau jadi korban teroris sehingga perlu alat yang sama sekali baru untuk menghadang aksi teroris tersebut.

Sumber: Diadaptasi dari The Telegraph