Perang Dingin Baru: Serangan Hacker China dan Rusia

scammers_t658

Baru-baru ini serangan hacker mengguncang Amerika Serikat. Serangan tersebut digambarkan sebagai cyber hack terburuk terhadap pemerintah AS dalam sejarah di mana database sebagian besar pegawai pemerintah dicuri oleh mata-mata asing.

Hal yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah data yang dicuri cenderung memiliki informasi untuk memperoleh security clearance seperti rincian kehidupan seksual, penggunaan narkoba dan keuangan. Semua ini dikhawatirkan karena berada di tangan kekuatan asing dan bisa digunakan untuk memeras pejabat dan pada akhirnya mendapatkan informasi rahasia.

Banyak yang menduga bahwa serangan ini disponsori oleh China. Namun China telah membantah dan mengaku tidak terlibat sedikitpun dalam serangan tersebut. Akan tetapi menteri keuangan AS secara gamblang mengatakan bahwa Amerika Serikat tetap sangat prihatin terhadap serangan pencurian yang disponsori pemerintah China.

Serangan cyber tersebut tentunya bukanlah yang pertama kali. Serangan pertama terhadap sistem pemerintahan Inggris terdeteksi pada tahun 2003 ketika sebuah email konon berasal dari kelompok Tibet dibuka di Kementerian Luar Negeri. Di dalam email tersebut tersembunyi virus yang memungkinkan hacker untuk masuk ke dalam jaringan.

Di tahun-tahun berikutnya, bukti bahwa Inggris adalah target dari kampanye spionase maya meningkat. Menjadi jelas bahwa target tidak hanya pemerintah, tetapi juga bisnis untuk rahasia mereka yang berharga.

Pada tahun 2012, lalu kepala MI5 Inggris, Jonathan Evans, mengeluarkan peringatan tentang skala spionase cyber. Dalam sambutannya ia mengatakan bahwa perusahaan besar yang terdaftar di London telah kehilangan 800 juta pound akibat serangan maya negara musuh. Sejumlah sumber mengatakan bahwa perusahaan yang menjadi target adalah raksasa pertambangan Rio Tinto.

Rio Tinto tidak berkomentar, namun perlu diketahui bahwa industri ekstraktif telah menjadi target utama mata-mata China karena China memiliki nafsu besar terhadap barang tambang seperti bijih besi sebagai bahan baku untuk pertumbuhan ekonomi.

Pada tahun 2009, Rio Tinto terlibat dalam negosiasi untuk memperbaiki harga bijih besi dengan China. Renegosiasi kontrak tersebut adalah permainan China untuk memperbaiki harga bijih besi. China berhasil mencapai tujuannya untuk menurunkan harga melalui campuran cara tradisional, seperti menekan staf dan melakukan spionase cyber.

Serangan tersebut bukan hanya dari China. China menggunakan jaring pukat besar, tetapi sering ceroboh dan mudah untuk diidentifikasi. Di lain pihak hacker Rusia, sebaliknya, lebih ahli dan beroperasi di bawah radar. Mata-mata Rusia tetap melakukan apa yang selalu mereka lakukan sebelumnya. Perbedaannya sekarang adalah bahwa mereka melakukannya di dunia maya.

Tentu saja akan sangat naif untuk berpikir bahwa Inggris tidak melakukan spionase cyber. Inggris seperti AS mulai memata-matai melalui internet sejak awal 1990-an. Para pejabat Inggris dan Amerika mengklaim bahwa meskipun mereka tidak melaksanakan jenis spionase perusahaan, tetapi mereka akan memata-matai pembicaraan perdagangan untuk mendukung ekonomi nasional.

Gedung Putih telah merencanakan untuk menghadapi spionase cyber China pada pertemuan puncak di 2013. Namun, beberapa jam sebelum pertemuan dibuka, dokumen rahasia yang mempublikasikan operasi cyber ofensif yang dilakukan oleh AS sendiri.

Kemudian bukti lain muncul berkat Edward Snowden. Hal ini mengubah perdebatan dan menyebabkan orang bertanya-tanya tentang siapa pemain paling agresif dalam spionase cyber di dunia maya.

Dokumen Snowden mengungkapkan skala kecerdasan mesin pengumpulan data Inggris dan Amerika yang dibangun untuk memantau aliran data global. Hal ini membuktikan bahwa tidak hanya China dan Rusia, tetapi juga Amerika Serikat dan Inggris telah melancarkan spionase cyber sehingga menjadi bukti bahwa hal ini merupakan medan baru perang dingin di antara berbagai negara yang terlibat.

Sumber: The Intercept