Dipenjara 30 Tahun karena Menghina Raja di Facebook

rsz_9314f528-0305-4d39-a2ea-690f8f5d6bbc-2060x1236

Seorang pria Thailand bernama Pongsak Sriboonpeng, 48 tahun telah dipenjara selama 30 tahun karena menghina monarki  Thailand di Facebook. Hukuman penjara selama 30 tahun ini merupakan hukuman paling tinggi yang pernah dikenakan karena pencemaran nama baik kerajaan di bawah pemerintah junta militer Thailand.

Raja Thailand Bhumibol Adulyadej, 87, dilindungi oleh aturan yang dikenal sebagai lèse-majesté di mana orang bisa dihukum karena menghina raja, ratu, dan pewaris sehingga bisa menghadapi hingga 15 tahun penjara pada setiap satu tuntutan.

Dalam pengadilan militer yang dilaksanakan hari Jumat yang lalu di Bangkok Pongsak Sriboonpeng 48 tahun dinyatakan bersalah karena mem-posting pesan dan gambar yang memfitnah monarki Thailand dalam enam postingan di situs media sosial Facebook. Ia dijatuhi hukuman 10 tahun pada setiap postingan sehingga bisa dipenjara selama 60 tahun penjara, namun kemudian dikurangi setengahnya setelah ia mengaku bersalah.

Pongsak Sriboonpeng memecahkan rekor lamanya seseorang dipenjara terkait dengan beratnya hukuman penjara yang yang diterima. Menurut pengacaranya oleh karena Pongsak ditangkap saat Thailand masih di bawah darurat militer, tidak ada hak untuk mengajukan banding terhadap hukuman pengadilan militer tersebut.

Tuntutan karena lèse-majesté telah melonjak sejak para jenderal Thailand merebut kekuasaan dari pemerintah terpilih pada Mei 2014. Menurut Ilaw, sebuah kelompok hak asasi lokal yang memantau kasus tersebut, hanya ada dua tuntutan yang sedang berlangsung untuk pencemaran nama baik kerajaan sebelum kudeta, namun sekarang jumlahnya meningkat setidaknya menjadi 56.

Kritik terhadap hukum tersebut mengatakan bahwa hukum tersebut telah digunakan sebagai senjata melawan musuh-musuh para elit politik kerajaan dan sekutu militer mereka dan sekarang target mereka dirahkan kepada yang menentang kudeta. Dalam tuntutan lain minggu ini, sebuah pengadilan militer di provinsi utara Chiang Rai menghukum seorang pria dengan sejarah gangguan mental, yaitu Samak Pantay, 48 tahun lima tahun penjara karena lèse-majesté. Ia dinyatakan bersalah karena memotong potret raja dan ratu pada bulan Juli tahun lalu.

Menurut pengacaranya, Samak mengaku bertanggung jawab sehingga hakim meringankan hukumannya menjadi lima tahun. Pengacaranya menambahkan bahwa Samak telah dinyatakan mengalami gangguan mental selama lebih dari 10 tahun.

Para jenderal yang sangat setia kepada kerajaan Thailand telah lama mengajukan diri mereka sendiri sebagai pembela monarki untuk membenarkan kudeta dan sering melakukan intervensi politik dalam negara yang politiknya terus bergolak tersebut.

Baik media Thailand maupun media internasional harus melakukan self sensor secara ketat ketika meliput lèse-majesté dan monarki sebab bahkan mengulangi rincian tuduhan pencemaran nama baik yang dirasakan pelanggaran bisa berarti melanggar hukum. Pemerintah Thailand jarang memberikan rincian kasus, sehingga membuat kelompok hak asasi untuk mengikuti tuntutan di seluruh negeri.

Sumber: AFP via The Guardian