Google, Facebook, Twitter dan Yahoo Klaim MPAA Hidupkan Kembali SOPA

sopa-pipa-graves-4f1995e-intro

Masih ingat SOPA (Stop Online Piracy Act) yang gagal diloloskan oleh Kongres AS pada tahun 2012? Kemungkinan SOPA bangkit lagi, namun perusahaan teknologi seperti Google, Facebook, Twitter dan Yahoo terlebih dahulu telah menghalanginya.

Google, Facebook, Twitter dan Yahoo telah menuduh studio film AS berusaha untuk membangkitkan kembali Stop Online Piracy Act (SOPA) yang dikalahkan di Kongres pada tahun 2012.

Perusahaan teknologi AS tersebut bergabung bersama untuk mengajukan brief di pengadilan New York guna mendesak hakim untuk menggagalkan perintah awal pengadilan yang diajukan oleh enam studio film Motion Picture Association of America (MPAA), yang menyerukan blokade terhadap dugaan pembajakan oleh situs Movietube.

Sony, Universal, Warner Bros, Disney dan Paramount kini sedang berusaha untuk menghapus Movietube dari internet dan menghentikan perusahaan internet terhubung ke atau menyediakan layanan situs tersebut, termasuk mesin pencari dan jejaring sosial.

Menurut Google, Facebook, Twitter dan Yahoo upaya penggugat untuk mengikat seluruh internet untuk melakukan penyapuan sesuai dengan perintah awal pengadilan tidak diperbolehkan. Hal ini melanggar prinsip-prinsip dasar proses hukum dan mengabaikan Digital Millennium Copyright Act (DMCA), yang secara khusus membatasi ganti-rugi yang dapat dikenakan pada penyedia layanan online dalam kasus hak cipta.

Google, Facebook, Twitter dan Yahoo menyatakan bahwa mereka tidak membenarkan penggunaan layanan mereka untuk pelanggaran hak cipta dan bahwa mereka bekerja dengan pemegang hak untuk mengatasi masalah, tetapi perintah penghapusan yang diusulkan akan memiliki konsekuensi serius bagi seluruh komunitas online.

Perusahaan teknologi tersebut khawatir jika perintah awal pengadilan untuk men-sweeping Movietube bisa menjadi langkah awal untuk menghidupkan kembali SOPA.  Dalam SOPA perusahaan yang mengklaim kekayaan intelektual mereka dilanggar bisa mengajukan perintah pengadilan untuk melarang jaringan iklan seperti Google serta fasilitas pembayaran, dari melakukan bisnis dengan situs yang melakukan pelanggaran hak cipta.

Sumber: The Guardian

Sumber Foto: ArsTechnica