Remaja Perempuan yang Bermain Game Cenderung Diam

480096792_d1

Bermain game kini bukan lagi hanya dilakukan oleh remaja laki-laki. Mayoritas remaja perempuan kini juga bermain game. Sebuah studi baru di AS menunjukkan bahwa mayoritas gadis-gadis remaja sekarang bermain video game. Namun, berbeda dengan remaja laki-laki yang bermain game untuk kegiatan sosial yang penting, remaja perempuan cenderung lebih memilih diam.

Benar bahwa remaja laki-laki masih lebih suka bermain video game dibandingkan remaja perempuan, yaitu 84 persen versus 59 persen dan jenis konsol yang digunakan, baik oleh remaja laki-laki dan perempuan cukup bervariasi seperti komputer, konsol atau ponsel.

Hal yang membuat sangat berbeda adalah bagaimana mereka bermain video game. Menurut teens, technology and friendships yang dipublikasikan bulan lalu oleh Pew Research Centre yang meneliti perilaku lebih dari 1.000 remaja berusia 11-18 tahun, hampir setengah dari perempuan yang disurvei (47 persen) mengatakan bahwa mereka tidak pernah bermain game online, sedangkan sebanyak 8% remaja laki-laki mengaku bermain game online.

Lebih dari seperempat anak perempuan (27 persen) mengatakan bahwa mereka tidak pernah bermain game dengan teman di ruangan yang sama, sedangkan untuk anak laki-laki sebanyak delapan persen.

Sebagian besar gadis remaja tidak hanya bermain game sendiri dan offline, bahkan seperempat dari gadis remaja yang bermain game memilih untuk mematikan mikrofon mereka. Sementara mayoritas remaja laki-laki melakukan chatting dengan pemain lain secara teratur selama sesi game online.

Kurang dari satu dalam 10 gadis remaja yang bermain game membuka mulutnya untuk berbicara di ruang video game publik. Untuk remaja laki-laki, video game adalah cara penting untuk menciptakan dan memelihara hubungan. Untuk anak perempuan bermain game adalah daerah di mana mereka memilih untuk diam.

Pertanyaannya adalah mengapa gadis remaja tidak menggunakan permainan atau game sebagai saluran sosial?

Studi Pew Research menemukan bahwa mayoritas remaja telah membuat setidaknya satu teman di internet. Namun cara remaja membuat teman bervariasi tergantung pada jenis kelamin. Lebih dari tiga perempat (78 persen) dari anak perempuan membuat teman online melalui media sosial, sementara hanya setengah dari anak laki-laki (52 persen) yang membuat pertemanan dengan cara tersebut.

Pertanyaan berikutnya, apa yang menyebabkan gadis remaja tidak suara bersuara di dunia game?

Salah satu kemungkinan yang menarik adalah ancaman pelecehan. Menurut studi yang dikutip oleh Danielle Keats Citron, seorang profesor hukum yang mempelajari kejahatan kebencian online, hampir tiga perempat dari gamer wanita yang bermain online mengadopsi karakter laki-laki untuk menghindari pelecehan seksual.

Selanjutnya adalah soal stereotip. Stereotip gamer saat ini adalah muda, kutu buku dan laki-laki. Meskipun stereotip sudah usang karena tahun lalu sebuah studi oleh Entertainment Software Association menemukan bahwa wanita dewasa dua kali lebih banyak bermain video game dibandingkan anak laki-laki, namun dalam budaya populer dan dalam jenis permainan yang diproduksi, stereotip ini jelas masih memimpin.

Dua alasan tersebut cukup bisa membantu untuk menjawab pertanyaan mengapa remaja perempuan lebih memilih untuk bermain game sendiri, offline dan mematikan mikrofon mereka.

Sumber: The Telegraph

Sumber Foto: Getty Images