Teknologi Smartphone dan Migrasi Orang Menuju Eropa

germany-italy-sends-libyan-refugees-off-with-eur500-in-their-pockets-01-jun-13-2

Migrasi sepanjang kehidupan manusia terus terjadi. Dulu banyak orang bermigrasi ke negara lain karena perang. Kinipun kondisinya sama, banyak pengungsi mencari kehidupan baru di negara lain, menyabung nyawa untuk hidup lebih baik karena kampung halaman dilanda perang atau alasan lain. Namun ada sesuatu yang berbeda dari migrasi di zaman teknologi maju saat ini, yaitu smartphone dan tempat mengisi baterainya.

Osama Aljasem, seorang guru musik berusia 32 tahun dari Deir al-Zour, Suriah mengatakan bahwa setiap kali ia pergi ke negara baru, ia membeli kartu SIM dan mengaktifkan internet dan medownload peta untuk menemukan lokasi dirinya. Ia menambahkan bahwa ia tidak akan pernah bisa tiba di tujuannya tanpa smartphone dan ia merasa stres ketika baterai smartphonenya mulai berkurang.

Teknologi telah mengubah krisis pengungsi abad 21. Tidak sedikit dari teknologi tersebut yang membuat mudah bagi jutaan orang yang berpindah dari satu titik ke titik lainnya. Teknologi telah membuat tekanan intensif terhadap rute yang terbukti sukses, yaitu melalui Balkan di mana PBB mengatakan bahwa sekitar 3.000 orang per hari terus menyeberangi perbatasan dari Yunani ke Makedonia.

Dalam migrasi modern, peta di smartphone, aplikasi global positioning, media sosial dan WhatsApp telah menjadi alat yang penting. Migran bergantung pada mereka untuk memasukkan update real time tentang rute, penangkapan, gerakan penjaga perbatasan dan transportasi, serta tempat tinggal dan harga, sambil tetap berhubungan dengan keluarga dan teman-teman.

Hal pertama yang banyak dilakukan setelah mereka telah berhasil melawati perairan  antara Turki dan Yunani adalah mengambil smartphone dan mengirimkan pesan kepada orang-orang tercinta bahwa mereka berhasil.

Sebagian besar perubahan ini didorong oleh puluhan ribu kelas menengah Suriah yang terlantar akibat perang. Namun bukan berarti alat-alat  tersebut hanya terbatas kepada mereka. Alat yang sama juga digunakan oleh pendatang dari Afrika dan Timur Tengah, Afghanistan dan Pakistan.

Pedagang manusia mengiklankan layanan mereka di Facebook seperti agen perjalanan yang sah, dengan foto-foto dinamis kota tujuan dan penawaran yang murah.

Di sebuah halaman Facebook Perdagangan orang berbahasa Arab ke Eropa, salah satu pedagang menawarkan diskon 50 persen untuk anak di bawah usia 5 tahun. Harga 1.700 euro ditawarkan untuk membawa migran dari  Istanbul menuju Thessaloniki, Yunani serta sekitar 1900 dollar sudah termasuk perjalanan dengan mobil ke dan dari setiap sisi perbatasan dengan dua jam berjalan kaki.

Hal ini tentu sesuatu yang baru. Teknologi smartphone telah memberi kemudahan kepada banyak orang untuk berkomunikasi. Teknologi smartphone pun memberikan kemudahan bagi migran yang ingin berpindah dari satu negara ke negara lain. Namun demikian sisi negatifnya juga terlihat, yaitu adanya perdagangan manusia yang lebih mudah dilakukan berkat smartphone, media sosial seperti Facebook atau aplikasi seperti WhatsApp.

Sumber: The New York Times

Sumber Foto: migrante.eu