Hacker Targetkan Pemerintah dan Perusahaan di Asia Tenggara

Identity-Theft-Victims-Should-Know-How-To-Prove-Themselves-640x425

Hacker telah meningkatkan serangan mereka pada pemerintah dan perusahaan di Asia Tenggara dan menjadikan wilayah tersebut salah satu yang paling ditargetkan di dunia di tengah meningkatnya ketegangan regional. Hal ini diungkapkan oleh penyedia jasa keamanan FireEye.

Menurut FireEye, perselisihan perairan teritorial dan pembicaraan perdagangan berkelanjutan membuat organisasi di wilayah Asia Tenggara 45 persen lebih mungkin ditargetkan dari rata-rata seluruh dunia. Perusahaan keamanan tersebut melihat secara khusus pada serangan cyber canggih, yang biasanya digunakan oleh pemerintah atau organisasi kriminal profesional, bukan upaya pelaku amatir.

Menurut Bryce Boland dari FireEye, kebanyakan dari serangan tersebut adalah pengumpulan data intelijen di sekitar sengketa perbatasan dan negosiasi perdagangan. Ancaman serangan terasa lebih intens karena korban tidak diharuskan untuk melaporkan atau berbagi rincian serangan sehingga tidak ada upaya terkoordinasi untuk mengembangkan praktik terbaik dan untuk membentuk pertahanan. Boland menambahkan, ketika sebuah perusahaan ditargetkan, perusahaan lain umumnya tidak akan mencari tahu tentang hal tersebut karena tidak ada pengungkapan dan karena itu perusahaan lain akan tetap rentan.

Negara Thailand yang terus mengalami ketegangan politik dua kali lebih mungkin untuk mengalami serangan di paruh pertama tahun ini, menurut laporan FireEye. Laporan tersebut muncul setelah Amerika Serikat dan China, yang telah saling tuduh tentang upaya pengumpulan data intelijen online, setuju untuk mengekang hacking komersial.

Perlu diketahui, pelanggaran keamanan menimbulkan kerugian 400 miliar dollar AS per tahun secara global. Center for Strategic and International Studies  memperkirakan, negara-negara Asia merupakan negara yang paling menderita.

Di luar Asia Tenggara, Hong Kong dan Taiwan adalah negara yang paling berisiko selama periode tersebut, dengan sekitar setengah dari organisasi terkena serangan. Perusahaan telekomunikasi, teknologi dan jasa keuangan serta organisasi pemerintah merupakan target yang paling ditargetkan di kawasan Asia.

Sumber: FireEye via Bloomberg