Media Sosial Merusak Kesehatan Mental Anak-anak

18k1widk1xs5kjpg

Office for National Statistics Inggris menunjukkan bahwa anak-anak yang menghabiskan tiga jam lebih dari hari sekolah di situs media sosial seperti Facebook dan Twitter dua kali lebih mungkin mengalami kesehatan mental yang buruk. Para ahli mengatakan bahwa anak-anak mengalami risiko keterlambatan dalam perkembangan emosi dan sosial karena mereka menghabiskan sangat banyak waktu di dunia maya.

Sekitar delapan persen anak muda berusia antara 10 hingga 15 tahun menghabiskan lebih dari tiga jam setiap hari untuk menggunakan situs media sosial dan aplikasi seperti Facebook, Twitter, Pinterest dan Snapchat. Mayoritas anak muda (56 persen) dilaporkan menghabiskan sampai tiga jam sehari di media sosial.

Anak perempuan jauh lebih mungkin dibandingkan anak laki-laki menghabiskan waktu berlebihan di situs media sosial. Satu dari sepuluh anak perempuan (11 persen) yang ditemukan dalam kategori teratas untuk waktu yang dihabiskan di situs media sosial dibandingkan hanya satu dalam dua puluh (5 persen) dari anak laki-laki.

Laporan tersebut mengatakan bahwa media sosial memberikan tambahan cara anak-anak untuk terhubung dengan orang lain dan membentuk hubungan lain, media sosial juga berpotensi sebagai sumber perbandingan sosial, cyberbullying dan isolasi.

Dr Hayley Van Zwanberg, psikiater anak dan remaja mengatakan: bahwa anak-anak benar-benar tenggelam dalam dunia maya yang merusak, baik cara mereka melihat diri mereka dan cara mereka memandang dunia nyata, beberapa anak muda sulit untuk memisahkan antara realitas dari fantasi. Ia menambahkan bawa anak-anak terlalu percaya teknologi modern dan tidak menyadari pengaruh negatif dari internet.

Keterampilan sosial dan kemampuan anak-anak untuk membuat pembicaraan ringan dan aktif mendengarkan serta mengembangkan empati, terkena dampak penggunaan internet/media sosial. Anak-anak  bercanda dan mengirim foto dan video tanpa benar-benar terlibat dengan orang-orang atau benar-benar saling mendengarkan satu sama lain serta mengirim dan membuat pernyataan tanpa melihat dampak langsung dari komentar mereka pada orang lain.

Sumber: The Telegraph

Sumber Foto: Gawker