Pertempuran Melawan Populernya Balas Dendam Porno

t1larg.cyber.bullying.gi

Setiap hari, data menunjukkan lebih dari 350 juta foto yang diposting di Facebook, lebih dari 1.440 jam video diupload ke YouTube, dan 100 miliar email yang dikirim.

Sebagian besar dari foto yang diposting tersebut tidak berbahaya, tetapi proporsi ofensif, menjengkelkan atau eksplisit terus meningkat. Terutama foto yang terkait dengan balas dendam porno, postingan foto eksplisit online tanpa persetujuan subjek yang ada di dalamnya telah mengalami lonjakan dalam beberapa bulan terakhir.

Kamera smartphone, koneksi mobile dan munculnya jejaring sosial meningkatkan potensi user generated material tidak senonoh untuk diposting ke Facebook, Twitter, hasil pencarian Google, dan di tempat lain. Perusahaan-perusahaan seperti Facebook, Twitter dan Google berada di bawah tekanan untuk dilaporkan ke polisi. Selain itu, kemungkinan adanya kelalaian media sosial untuk memoderasi postingan balas dendam porno secara efektif, media sosial menghadapi kemungkinan proses pidana di masa mendatang.

Australia sedang mempertimbangkan aturan yang akan membuat operator situs bertanggung jawab untuk balas dendam porno yang ditempatkan di situs mereka, dengan kemungkinan hukuman penjara. Di Korea Selatan, Twitter dilaporkan menghadapi penyelidikan karena tidak berbuat cukup banyak untuk mengatasi postingan porno di situs mereka. Negara-negara lain dapat mengikuti hal tersebut jika merasa jaringan sosial tidak berbuat banyak untuk menindak konten eksplisit.

Jaringan sosial mempekerjakan ratusan orang untuk menjadi moderator guna menyapu konten yang mencurigakan dari situs mereka, tetapi pekerjaan tersebut dapat sangat melelahkan karena melibatkan berjam-jam untuk mengidentifikasi bagian tubuh, pornografi (beberapa di antaranya ilegal), dan bahan rasis. Selain itu tidak mungkin untuk mencari segala sesuatu, kebanyakan moderator bergantung pada gambar atau video yang dilaporkan oleh pengguna.

Alternatif lain untuk melawan balas dendam porno dan konten porno pada umumnya adalah beralih ke algoritma. Image Analyzer, yang berbasis di Amersham, Buckinghamshire adalah salah satu perusahaan yang telah mengembangkan perangkat lunak yang bisa memindai ribuan gambar atau video untuk mengidentifikasi apakah gambar atau video tersebut eksplisit.

Image Analyzer bekerja sama dengan Cisco, Intel dan jaringan sosial Tagged, mengambil lisensi perangkat lunak mereka untuk menyaring gambar dan video di website atau email. Ini suatu kemajuan yang patut disyukuri. Tentunya kita berharap makin banyak perusahaan yang menggunakan algoritma untuk menyaring foto atau video agar balas dendam porno atau konten porno pada umumnya tidak berjalan bebas di situs, terutama di media sosial.

Sumber: The Telegraph