Setujui Balon Google, Pemerintah Diminta Juga Dukung OpenBTS

f2aefa5f-3935-4507-8984-0c732722a63d_169
Menkominfo Rudi Antara (kanan) berjabat tangan dengan Vice President Project Loon Google Mike Cassidy (kiri) usai penandatanganan kerjasama akses internet melalui Project Loon di Kantor Google X Mountain View, California, Amerika Serikat, Rabu (28/10). (ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma)

Sehari setelah pemerintah Indonesia dan operator seluler menandatangani kesepakatan uji teknis balon Internet Google, lembaga swadaya masyarakat ICT Watch meminta pemerintah juga mendukung teknologi alternatif OpenBTS untuk menyediakan koneksi seluler ke daerah pelosok dengan alasan “netralitas teknologi.”

Proyek balon udara Google yang disebut Project Loon, mendapat dukungan pemerintah dengan memanfaatkan spektrum 900 MHz milik tiga operator seluler, yaitu Telkomsel, XL Axiata, dan Indosat.

Berkaca dari hal itu, Direktur Eksekutif ICT Watch, Donny Budi Utoyo meminta pemerintah juga memberi izin kepada OpenBTS untuk memakai spektrum 900 MHz demi kepentingan penelitian dan pengembangan.

Ia meminta Kementerian Komunikasi dan Informatika memberi dukungan pada OpenBTS dengan dasar “netralitas teknologi” yang mengharuskan suatu regulasi harus dapat diterapkan juga pada teknologi alternatif yang ada. Karena, tak etis suatu regulasi hanya berlaku untuk teknologi yang telah digunakan atau yang dianggap primadona serta unggulan saja.

“Teknologi OpenBTS adalah teknologi yang telah terbukti dapat dikembangkan dari-oleh-masyarakat Indonesia untuk membantu mengatasi kesenjangan pembangunan infrastruktur telekomunikasi, juga dalam situasi gawat darurat kebencanaan,” ujar Donny dalam siaran pers yang diterima CNN Indonesia, Jumat (30/10).

OpenBTS merupakan serangkaian peranti lunak yang dipasangkan pada komputer yang telah ditambah antena penerima dan pengirim sinyal seluler, yang kemudian bisa dimanfaatkan sebagai BTS portabel.

Dengan alat ini masyarakat di sekitar lokasi OpenBTS dapat menerima sinyal seluler untuk melakukan panggilan telepon dan SMS.

Menurut praktisi sekaligus dosen telekomunikasi, Onno W. Purbo yang selama ini aktif menyosialisasikan OpenBTS, teknologi ini merupakan alternatif untuk membangun Base Transceiver Station (BTS) sendiri dengan harga terjangkau untuk telekomunikasi GSM berbasis software open source.

OpenBTS memungkinkan implementasi software open source untuk mengirim jaringan GSM ke ponsel dan membuka peluang bagi masyarakat di daerah pedesaan agar tidak tergantung pada operator seluler yang jaringannya tak merambah wilayah terpencil.

Donny mengatakan teknologi OpenBTS sejauh ini belum mendapat dukungan yang memadai dari operator telekomunikasi dan pemerintah, dalam skema kerja sama bentuk apapun.

“Kami juga meminta kepada operator telekomunikasi Indonesia, hendaknya sepenuh hati mendukung penelitan dan pengembangan teknologi informasi dan komunikasi, semisal OpenBTS, yang sejatinya telah dan dapat dilakukan secara mandiri oleh putra-putri Indonesia,” lanjut Donny.

Mengenai Project Loon, rencananya perangkat balon udara Google ini bakal diuji pada 2016 dan didukung oleh tiga operator. Balon akan mengudara di ketinggian 20 km dari permukaan laut untuk menyebar koneksi Internet 4G LTE ke kawasan timur Indonesia yang infrastruktur telekomunikasi dinilai belum memadai.

Jika berjalan lancar, teknologi “BTS terbang” ini akan dikomersialkan pada dua atau tiga tahun mendatang.

Sumber: CNN Indonesia