Smartphone Merusak Kehidupan Cinta Penggunanya

252477_640

Penelitian dari Baylor University Hankamer School of Business menegaskan bahwa ponsel merusak hubungan romantis dan dapat membuat penggunanya mengalam tingkat yang lebih tinggi dari depresi.

James A. Roberts, Ph.D., Ben H. Williams, dan Meredith David, Ph.D., baru-baru ini menerbitkan studi mereka di jurnal  Computers in Human Behavior. Untuk studi mereka, para peneliti tersebut melakukan dua survei terpisah dengan total peserta sebanyak 453 orang dewasa di AS untuk mempelajari efek relasional Pphubbing atau partner phone snubbingPphubbing didefiniskan dalam penelitian ini sebagai sejauh mana orang menggunakan atau terganggu oleh ponsel mereka sementara bersama dengan pasangan mereka.

Para peneliti menemukan bahwa ketika seseorang merasa bahwa pasangan mereka menganggu mereka (dengan smartphone) mereka, gangguan ini menciptakan konflik dan menyebabkan tingkat yang lebih rendah dari kepuasan hubungan. Tingkat yang lebih rendah dari kepuasan hubungan tersebut pada gilirannya, menyebabkan tingkat yang lebih rendah dari kepuasan hidup dan, pada akhirnya, tingkat yang lebih tinggi dari depresi.

Survei pertama terhadap 308 orang dewasa membantu peneliti mengembangkan Partner Phubbing Scale, sembilan perilaku pengguna smartphone yang umum yang diidentifikasi sebagai perilaku snubbing. Skala yang dihasilkan meliputi pernyataan seperti:

  1. Pasangan menempatkan ponselnya di mana ia bisa melihatnya ketika bersama saya.
  2. Pasangan terus memegang ponsel di tangan ketika ia bersama saya.
  3. Pasangan melirik ponselnya ketika berbicara dengan saya.
  4. Jika ada jeda dalam percakapan kami, pasangan saya akan memeriksa ponselnya.

Survei kedua terhadap 145 orang dewasa mengukur Pphubbing di antara pasangan romantis. Hal ini dilakukan, sebagian dengan meminta mereka yang disurvei untuk merespon dengan skala sembilan perilaku snubbing yang dikembangkan dalam survei pertama.

Sisi lain yang diukur dalam survei kedua termasuk konflik ponsel, kepuasan hubungan, kepuasan hidup, depresi dan interpersonal attachment style (misalnya, anxious attachment menggambarkan orang-orang yang kurang aman dalam hubungan mereka).

Hasil survei menunjukkan bahwa:

  1. Sebanyak 46,3 persen responden melaporkan bahwa mereka di-phubbed oleh pasangan mereka.
  2. Sebanyak 22,6 persen mengatakan phubbing menyebabkan konflik dalam hubungan mereka.
  3. Sebanyak 36,6 persen melaporkan merasa tertekan setidaknya beberapa kali.

Dari penelitian tersebut diketahui bahwa secara keseluruhan, hanya 32 persen responden menyatakan bahwa mereka sangat puas dengan hubungan mereka.

Menurut Meredith David, dalam interaksi sehari-hari yang signifikan dengan orang, orang sering menganggap bahwa gangguan sesaat oleh ponsel mereka bukan masalah besar. Namun, temuan mereka menunjukkan bahwa semakin sering pasangan yang menghabiskan waktu bersama terganggu oleh satu individu karena memperhatikan ponselnya, semakin kecil kemungkinan individu lain merasa puas dalam hubungan secara keseluruhan.

Secara khusus, gangguan sesaat oleh ponsel seseorang selama waktu yang dihabiskan dengan orang lain yang berarti (hubungan romatis atau hubungan lain) kemungkinan menurunkan kepuasan orang lain yang signifikan tersebut dalam hubungan mereka dan dapat menyebabkan perasaan depresi yang meningkat dan menurunkan kesejahteraan individu tersebut.

Dengan demikian, ketika menghabiskan waktu dengan seseorang yang signifikan (yang berarti), peneliti mendorong individu untuk menjadi sadar akan gangguan yang disebabkan oleh ponsel mereka, karena ini mungkin berbahaya bagi hubungan mereka.

Sumber: Baylor University

Sumber Foto: Baylor University