Studi: Orang Berbohong Lebih Sering Ketika Texting

19279619_SA

Menurut penelitian yang dilakukan oleh David Xu, asisten profesor di W. Frank Barton School of Business Wichita State University, mengirim pesan teks menyebabkan orang berbohong lebih sering dibandingkan dengan  bentuk lain dari komunikasi.

David Xu adalah penulis utama dari penelitian tersebut yang membandingkan tingkat penipuan yang digunakan orang dalam berbagai media, dari pesan teks hingga ke interaksi tatap muka. Meskipun penelitian ini sudah cukup lama dilakukan, namun tampaknya masih relevan karena terus meningkatnya kegiatan texting pengguna ponsel.

Penelitian ini melibatkan 170 siswa dari Sauder School yang melakukan transaksi mock stock dengan salah satu dari empat cara, yaitu tatap muka, dengan video, audio atau chatting teks.

Para peneliti berjanji akan memberikan penghargaan berupa uang tunai sampai dengan 50 dollar untuk meningkatkan keterlibatan peserta dalam bermain peran. Broker dijanjikan hadiah uang tunai yang meningkat untuk penjualan saham lebih banyak, sedangkan pembeli diberitahu hadiah uang tunai mereka akan tergantung pada nilai saham yang belum ditentukan.

Broker diberi pengetahuan bahwa saham tersebut akan dicurangi agar kehilangan setengah dari nilainya. Pembeli hanya diberitahu fakta ini setelah transaksi penjualan mock stock dan diminta untuk melaporkan apakah broker melakukan penipuan untuk menjual saham mereka.

Para peneliti kemudian menganalisis bentuk komunikasi apa yang lebih banyak menyebabkan penipuan. Mereka menemukan bahwa pembeli yang menerima informasi melalui pesan teks, 95 persen lebih mungkin untuk melaporkan penipuan daripada jika mereka telah berinteraksi melalui video, 31 persen lebih mungkin untuk melaporkan penipuan jika dibandingkan dengan interaksi tatap muka, dan 18 persen lebih mungkin melaporkan penipuan jika dibandingkan dengan interaksi melalui chatting audio.

Fakta bahwa orang-orang cenderung untuk berbohong lebih sedikit ketika berinteraksi via video daripada interaksi orang per orang tidak mengejutkan. Menurut David Xu hal tersebut masuk akal mengingat apa yang disebut efek sorotan, di mana seseorang merasa mereka sedang diawasi lebih dekat pada saat berkomunikasi via video dibandingkan ketika berkomunikasi face to face.

David Xu mengatakan penelitian ini memiliki implikasi bagi konsumen untuk menghindari masalah seperti penipuan online dan untuk bisnis yang ingin mempromosikan kepercayaan dan membangun citra yang baik.

Sumber: Science Daily

Sumber Foto: wsmv.com