Facebook Membuat Penggunanya Marah dan Kesepian

gty_facebook_dm_120120_wmain

Sebuah studi baru menemukan bahwa Facebook bisa membuat penggunanya kesepian dan marah karena mereka terus-menerus membandingkan diri dengan kehidupan orang lain yang tampaknya sempurna.

Para peneliti mengklaim memeriksa situs Facebook menyediakan kepuasan instan dalam bentuk LIKE dan permintaan teman bagi pengguna, tetapi juga memberikan kesan buatan bahwa pengguna yang lain lebih bahagia daripada mereka.

Dalam penelitian ini, Happiness Research Institute Denmark melakukan percobaan terhadap 1095 orang di Denmark dengan memberikan tingkat kebagiaan saat ini, yaitu 7,6 dari 10. Peneliti kemudian meminta setengah dari mereka untuk berhenti menggunakan Facebook selama satu minggu, dan setengah lainnya terus menggunakan Facebook seperti biasa.

Setelah tujuh hari, mereka yang tidak login ke situs Facebook dilaporkan kebahagiaan mereka naik menjadi 8,12 dari 10, sedangkan mereka yang terus menggunakan Facebook, kebahagiaan mereka tetap tidak berubah.

Mereka yang tingkat kebagiaannya naik ini (karena tidak login ke Facebook) juga melaporkan peningkatan aktivitas sosial di dunia nyata dan rasa marah dan kesepian berkurang secara signifikan daripada yang tetap menggunakan Facebook.

Menurut Meik Wiking CEO Research Institute,  hasil dari eksperimen tersebut sebagian besar disebabkan oleh  kecenderungan orang untuk membandingkan diri mereka dengan orang lain. Dia menambahkan bahwa Facebook mendistorsi persepsi pengguna tentang realitas dan apa yang benar-benar terlihat dalam hidup orang lain. Oleh karena kebanyakan orang hanya menampilkan hal-hal positif di Facebook, hal ini membuat persepsi pengguna sangat bias realitas.

Jika kita terus-menerus terpapar berita besar (bahagia orang lain), kita berisiko menganggap hidup kita sendiri kurang baik. Wiking menyamakan Facebook sebagai saluran berita bagus/segala sesuatu yang baik yang menjadi gambaran palsu kehidupan yang diedit.

Ini artinya hal yang tampak di Facebook sebagian besar adalah tentang berita bahagia orang lain yang mungkin saja tidak sama dengan kehidupan nyata mereka. Oleh karena pengguna terus-menerus menerima berita bagus tentang kehidupan orang lain, ia merasa kehidupannya tidak baik. Hal ini akan berakibat kepada rasa marah dan kesepian karena merasa kurang beruntung dibandingkan orang lain.

Sumber: Daily Mail

Sumber Foto: ABC News