FBI Sarankan Bayar Tebusan Jika Kena Serangan Ransomware

522952820_640

Jika komputer Anda di-hack dan terinfeksi malware yang menyandera data Anda untuk tebusan atau biasa disebut Ransomware, jangan berharap FBI akan memberikan pertolongan untuk menyelamatkan data tersebut. FBI malah menyarankan Anda untuk membayar tebusan yang diminta oleh hacker tersebut sehingga data Anda kemungkinan bisa kembali.

Ransomware adalah perangkat lunak berbahaya yang canggih yang memungkinkan hacker mengenkripsi semua isi dari hard drive atau server korban dan menuntut uang tebusan (biasanya dalam bentuk Bitcoins) untuk kunci mendekripsi (membuka data tersebut kembali).

Sebelumnya, agen federal dan FBI mendesak masyarakat untuk tidak membayar uang tebusan untuk para penjahat/hacker karena tidak ada jaminan bahwa mereka akan menerima kunci unlock. Namun, saat berbicara pada 2015 Cyber ​​Security SummitAssistant Special Agent Joseph Bonavolonta yang mengawasi kantor FBI di Boston menyarankan perusahaan terinfeksi ransomware untuk membayar uang tebusan.

Menurut Bonavolonta, FBI saat ini lebih sering menyarankan orang untuk membayar uang tebusan. Pertanyaannya adalah apakah sekarang FBI yakin bahwa membayar uang tebusan akan menyelamatkan data korban?

Program jahat seperti cryptolocker, Cryptowall, dan Reveton menggunakan algoritma enkripsi ultra aman untuk mengenkripsi data korban dan untuk memperoleh kunci untuk mendekripsi korban harus membayar mulai dari 200 hingga 10.000 dollar AS. Sayangnya,  bahkan setelah membayar uang tebusan yang jumlahnya tidak sedikit, tidak ada jaminan bahwa korban akan menerima kunci untuk memulihkan data mereka.

Perlu diketahui, bahwa bahkan polisi tidak kebal terhadap serangan Ransomware. Cryptowall,  malware yang paling luas digunakan dalam aksi Ransomware saat ini bisa menghasilkan sebanyak lebih dari 18 juta dolar dari April 2014 sampai Juni 2015 bagi hacker kriminal.

Sumber: The Hacker News

Sumber Foto: Vimeo