Gelaja Hacker Muda dan Kurangnya Pengawasan Orang Tua

038742500_1442475699-Untitled-1_copy

Ketika Vinnie Omari mencapai usia 12 tahun, di dunia online-nya terlebih dahulu sudah ada sebuah pertanyaan, yaitu meng-hack atau di-hack. Vinnie biasanya suka bermain game, namun suatu ketika   sesama pemain game mendesaknya untuk mengklik link pembaruan. Ia mengklik link tersebut yang adalah virus yang kemudian merusak komputernya hingga ia harus membuangnya.

Vinnie menyelidiki sumber hack dan dalam prosesnya ia belajar untuk menjadi master dalam dunia hack. Ia kemudian berafiliasi dengan kelompok yang dikenal sebagai Lizard Squad dan sepupunya, satu tahun lebih muda sudah mulai mengembangkan malware yang dijual secara online untuk seharga 50 dollar AS. Vinnie membantunya melakukan survei anonim pembeli yang usia rata-rata berusia 15 tahun.

Vinnie dan sepupunya adalah contoh nyata hacker remaja. Minggu lalu, kepolisian Inggris menangkap dua remaja, satu di Irlandia Utara dan satu lagi di London, yang terkait dengan serangan terhadap TalkTalk. Kedua remaja tersebut melakukan hack terhadap TalkTalk di kamar tidur mereka.

Hal ini menimbulkan pertanyaan, sejauh mana orang tua mengawasi atau mengetahui apa yang dikerjakan anak remajanya di online?

Para ahli keamanan mengatakan setiap kali ada serangan/hacking besar, serangan besar tersebut dilakukan oleh anak laki-laki berusia 13 tahun ke atas sebagai pelaku utama. Seringkali orang tua mereka tidak tahu hukum domestik dan internasional yang dirusak oleh anak mereka yang dari tidur di kamar sampai dengan pihak berwenang tiba untuk menangkap.

Ini sesuatu yang perlu diperhatikan orang tua. Mereka akan sangat kaget ketika polisi berada di depan pintu untuk menangkap anak mereka. Namun demikian, mereka tidak permah mau tahu apa yang dikerjakan anak ketika online.

Betapa pentingnya orang tua mengetahui danamengawasi apa yang anak remaja mereka lakukan karena untuk melakukan hack kini begitu mudah dan dapat belajar sendiri. Apalagi sangat banyak organisasi hacking yang ingin merekrut anggota muda untuk kemudian disuruh menyerang pihak-pihak yang tidak mereka senangi.

Sumber: diadaptasi dari The Telegraph